Ust Nasihin Nur Meninggal Dalam Keadaan Sholat

Posted on

ini adalah tulisan saya tahun 2009, mohon maaf jika ada salah penyampaian maupun tulisan

إنا لله وإنا إليه راجعون
Kecintaan beliau terhadap nasyrul ‘ilm tergambar suatu saat beliau meminta dengan sangat kepada murid murid beliau untuk didoakan agar beliau meninggal padaa saat mengajar kalau bisa di darullughah atau di darul ihya (majlis ta’lim asuhan Ust. Ahmad Assegaf Bangil) atau meninggal dalam keadaan sholat, dan alhamdulillah ketika adzan ashar tiba-tiba beliau menggerakkan kedua tangannya, takbiratul ihram untuk shalat ashar (setelah beberapa hari dalam keadaan koma) dan meninggal dunia dalam keadaan shalat ashar.
TELAH BERPULANG KE RAHMATULLLAH

AL USTADZ AHMAD NASHIHIN BIN NUR MUHAMMAD

Beliau adalah seorang ustadz yang ikut bersama Ustadz Hasan Baharun dalam merintis Ma’had Darullughah Wadda’wah dan terus mengabdi di pondok ini sampai akhir hayatnya. Banyak kesaksian yang mengatakan bahwa Ustadz Hasan ketika pondok kesusahan keuangan sering meminta tolong Ustadz Nasihin untuk mencarikan dana (pinjaman) dan hal itu tidak pernah ditolak oleh beliau dan sampai Ustadz Hasan meninggal kepemimpinan Ma’had diteruskan Ust. Zain Baharun juga masih sering beliau mengulurkan bantuan kepada Ust Ismail Ayyub, Jiwa, Raga dan Harta beliau kerahkan demi membantu perjuangan Pon Pes Dalwa

Kepedulian dan perhatian beliau terhadap ma’had ini tidak berkurang walaupun kesehatan beliau mulai menurun. Hingga menjelang Ramadhan Pada Tahun 1430 H / 2009, ketika ditanya kesanggupan beliau untuk mengisi ta’lim ramadhan, beliau siap mengajar setiap hari asalkan dijemput setiap menjelang jam mengajar. Namun 2 hari sebelum ramadhan (Kamis, Agustus 2009) beliau jatuh sakit dan meninggal hari senin tanggal 25 Agustus 2009

Takdim dan Kecintaan Beliau Terhadap Ahlu Bait Nabi

Ta’dhim dan kecintaan beliau kepada ahlul bait sangat tinggi, pada saat hari-hari terakhir dimana beliau sudah tidak berdaya dan hanya mampu memberikan isyarat tangan, ketika Ust. Ali Hasan Baharun berpamitan saat menjenguk beliau di rumah sakit, beliau berusaha menarik tangan beliau untuk diciumnya, karena Ust. Ali merasa sebagai murid beliau maka berusaha menarik tangannya agar tidak dicium beliau. Untunglah putra beliau Ust. Mufti yang menyaksikan kejadian itu meminta Ust. Ali untuk menyerahkan tangannya agar dicium abinya, biar beliau farhan (senang) dan Ustadz Ali akhirnya mencium pula tangan beliau.

Cita Cita Beliau, Beliau ingin Meninggal Dalam Keadaan Sholat

Kecintaan beliau terhadap nasyrul ‘ilm tergambar suatu saat beliau meminta dengan sangat agar beliua mendo’akan agar beliau meninggal padaa saat mengjar kalau bisa di darullughah atau di darul ihya (majlis ta’lim asuhan Ust. Ahmad Assegaf Bangil) atau meninggal dalam keadaan sholat, dan alhamdulillah ketika adzan ashar tiba-tiba beliau menggerakkan kedua tangannya, takbiratul ihram untuk shalat ashar (setelah beberapa hari dalam keadaan koma) dan meninggal dunia dalam keadaan shalat ashar

Diantara untaian – untaian nasehat beliau kepada santri-santri beliau …………”dimana pun kalian berada bagaimanapun kalian jangan lupa niatkan “nasruddin” (menolong / memperjuangkan agama allah swt) “

Telah berpulang ke rahmatullah Ustadz Ahmad Nashihin bin Muhammad Nur salah seorang pengajar senior Ma’had Darullughah Wadda’wah. Beliau meninggal pada hari selasa tanggal 25 Agustus 2009 pada sekitar jam 15.00 WIB.

Nasehat Nasehat Abuya Hasan Untuk Ust Nasihin Nur

“Ya nasihin, Kalau kamu naik kendaraan, jauh atau dekat maka jangan lupa doa safar”

diantara simbol eratnya persahabat antara Abuya Hasan dan Ust Nasihin Nur, sering kali Abuya Hasan bermusyawaroh kepada Ust Nasihin Nur perihal hal tertentu, acap kali Abuya Hasan Membeli Mobil yang difungsikan untuk masalah pesantren, Abuya Hasan mengajak sahabat beliau jalan menggunakan mobil tersebut, Ust Nasihin ketika itu menceritakan awal mula pembelian mobil kijang,

pernah suatu saat Ust Nasihin Nur dianjurkan dokter untuk makan kripik belinjo, dimana bisa mendapatkannya dan dimana mencarinya lumayan membuat Ust Nasihin Nur kebingungan, wal hasil pada malamnya Abuya Hasan berkunjung dan ternyata beliau membawa belinjo,

Ust Nasihin pun berteriak histeris layaknya pertemuan kedua sahabat “Yaa ustadz Hasan, ane disuruh dokter untuk makan belinjo, ternyata antum yang datang bawa belinjo, antum wali atau ane yang wali ?” canda Ust Nasihin Nur,

Abuya Hasan Baharun menjawab “Kita Sama Sama Wali Ya Nasihin” beliau berdua pun tertawa melebur dalam nuansa hangatnya persahabatan.

seiring waktu, saya akan update dengan cerita cerita Abuya Hasan dan Ust Nasihin Nur.

Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil bersama Ust Nasihin Nur di Pon Pes Darul Ihya
in frame : Habib Ahmad bin Husein Assegaf, Perintis @ponpes_darul_ihya dan Ust Nasihin Nur, beliau beliau adalah sahabat Abuya Hasan Baharun,

Nama Saya diingat oleh Habib Umar bin Hafidz

Saya ingin menceritakan tentang kebersamaan (alm) Ust Nasihin Nur bersama Habib Umar bin Hafidz

di frame ini adalah Sosok Sosok Mulia, Sosok Sosok Sahabat Abuya Hasan Baharun,
cerita tentang ust nasihin sudah saya ceritakan di http://www.hilyah.id

ada cerita lagi dari beliau,.,., yaitu kebersamaan Beliau bersama Habib Umar bin Hafidz, beliau sosok yang sangat dikenali oleh Habib Umar bin hafidz Karena perantara Abuya Hasan Baharun dan Putra beliau yaitu Ust Mufti bin Ust Nasihin Nur belajar di Habib Umar bin Hafidz,
beliau menceritakan di kelas kami pada tahun 2008, ketika itu saya dan teman teman kelas 1 Aly di Pon Pes Dalwa dengan seksama menceritakan nasehat beliau,
beliau pun bercerita, “Lama banget saya tidak bertemu habib umar, entah sudah beberapa tahun tidak bertemu dengan Habib Umar bin hafidz, suatu saat ane bertemu Habib Umar bin Hafidz di sebuah moment, Habib Umar langsung berkata “Ahlan yaa Nasihinn Nur”, Ketika menceritakan demikian di kelas kami Ust Nashihin pun berucap “Sungguh nikmat bahagia ketika nama kita diinget oleh orang alim, mungkin kita bisa mengingat nama orang orang mulia, namun sebuah kebahagian ketika nama kita diinget oleh sosok Habib Umar bin Hafidz, semoga kita kelak bukan hanya di dunia namun juga di akherat berkumpul dengan beliau”
in frame : Habib Ahmad bin Husein Assegaf, Perintis @ponpes_darul_ihya dan Ust Nasihin Nur, beliau beliau adalah sahabat Abuya Hasan Baharun,

Ust Nasihin Nur Bertemu Nabi Khidir

Cerita lain tentang Ust Nasihin Nur dari berbagai sumber

“Saya ingin sekali meninggal dalam keadaan dua hal, pertama saya ingin sekali meninggal dalam keadaan melaksanakan shalat atau yang kedua ketika saat mengajar ketika mengajar”, demikian ungkapan beliau saat berkumpul bersama putera puterinya, ungkapan beliau juga beliau utarakan sembari meminta doa kepada santri santrinya agar impian beliau meninggal dalam kedua hal tersebut terwujud, Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besar semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Hal itu terlihat dalam rutinitas keseharian beliau yang terisi penuh dengan jadwal kegiatan mengajar di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Pondok Pesantren Salafiyah Bangil, dan beberapa majelis taklim di wilayah Bangil.

Ustadz Muhammad Nasichin Nur yang akrab dipanggil Nasichin ketika masih kecil itu dilahirkan di Pasuruan, 1 Agustus 1949, dari seorang ibu yang bernama Nasichah dan ayahnya bernama Nur Muhammad. Beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang sederhana dengan profesi ayahnya sebagai seorang penjahit. Namun hal itu tidak mematahkan semangat beliau untuk memiliki cita-cita yang tinggi dan tekun dalam menuntut ilmu. Di saat belajar di SR (Sekolah Rakyat, SD sekarang) Nasichin kecil tergolong anak yang sangat cerdas dan selalu berprestasi. Setiap ujian akhir tahun beliau selalu mendapat ranking satu dan hal ini membuat kedua orang tuanya sangat bangga dan bahagia.

Setelah menamatkan pendidikannya di SR atau biasa disebut Sekolah Rakyat karena ketika itu masih belum ada istilah SD atau Sekolah Dasar, beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Di pondok pesantren inilah beliau mulai mendalami ilmu-ilmu agama dan memperbanyak khidmah dan tirakat, sehingga tubuh beliau tampak kurus ketika belajar di pesantren tersebut. Suatu hari ibundanya menjenguk beliau ke pondok pesantren sidogiri dan melihat putranya yang tampak kurus dengan sarungnya yang tampak usang lalu berkata: “Nasichin badanmu kok tampak kurus?”, beliau menjawab: “ya, di pesantren harus banyak tirakat, sering puasa”, mendengar jawabannya itu ibunyapun terpaku membisu kagum dan terdiam penuh harapan.

banyak hikmah yang selalu kita dapatkan dari sosok Ustadz Nasihin Nur, Satu cerita yang tidak kalah menarik adalah saat beliau mendapat predikat sebagai bintang pelajar di pesantren Sidogiri. Ketika pengumuman juara kelas dibacakan, beliau masih berada di pasar melakukan pekerjaannya sebagai buruh belanja untuk pesantren demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Setelah mengetahui hal itu maka teman-temannya segera menyusul dan membawanya kembali ke pesantren penuh haru. Ternyata “buruh belanja” mereka lah yang menjadi bintang pelajar. Sebuah pelajaran bahwa keterbatasan tidak seharusnya menjadi halangan untuk meraih prestasi tertinggi.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren Sidogiri beliau memutuskan untuk pindah dan berkhidmat kepada keluarga Kyai di Lasem, Jawa Tengah dengan bekerja mengisi air ke kamar mandi dan dan membersihkan kamar mandi milik Kyai. Sepulangnya dari Lasem beliau dinikahkan dengan Hamidah putri dari Haji Yusuf. Dari pernikahan ini lah beliau dianugerahi sepuluh orang anak, lima laki-laki dan lima perempuan.

Bertemu Nabi Khidhir

Pada tahun 1988, beliau menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Saat inilah beliau mengalami kejadian yang luar biasa dalam hidupnya, beliau bertemu dengan Nabi Khidir AS. Ini terjadi pada saat beliau mengkhatamkan Al-Qur’an, tiba-tiba beliau dikagetkan oleh pemuda misterius berwajah tampan dan mengenakan jubah abu-abu yang menepuk pahanya seraya berkata kepadanya: “uskut ! (diam!)” bermaksud agar beliau diam berhenti dari bacaan Al-Qur’annya, namun beliau tidak menggubris pemuda misterius itu dan terus membaca. Untuk kedua kalinya pemuda itu berkata lagi kepada beliau dengan kata yang sama namun beliau tetap saja tidak memperdulikannya. Sampai pada teguran yang ketiga dan dengan kata yang sama barulah beliau menghentikan bacaannya.

Setelah itu terjadilah dialog antara keduanya, pemuda misterius itu bertanya kepada beliau tentang nama dan negara asalnya. Setelah beliau menjawab pertanyaan pemuda misterius itu,beliau balik menanyakan nama dan Negara asalnya, lalu dia menjawab: “aku Balya bin Malkan Al-Madani”. Saat itu beliau tidak ingat bahwa itu adalah nama asli Nabi khidir, meski beliau sempat minta didoakan oleh Nabi Khidir tersebut dan Nabi Khidir pun mendoakannya.

Setelah mendoakannya, pemuda misterius yang ternyata Nabi Khidir itu menyuruh agar beliau melanjutkan bacaannya dan memnyerahkan secarik kertas kepada beliau sebelum dia pergi. Setelah kepergian pemuda misterius itu beliau baru teringat bahwa Balya bin Malkan itu adalah Nabi Khidir AS. Beliau pun mencarinya kemana-mana namun tidak berhasil menemukannya, Nabi Khidir seperti menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Masih tentang peristiwa yang terjadi ketika beliau haji. Suatu ketika beliau sedang mengerjakan ibadah Thawaf. Di tengah-tengah ibadah tersebut beliau jatuh pingsan. anehnya ketika sadar ternyata beliau mendapati dirinya sudah berada di dekat sumur zam-zam. Beliau kaget dan bingung tidak tahu siapa yang telah menolongnya. Seandainya tidak ditolong beliau tentu sudah terinjak oleh jamaah haji lain yang saat itu juga sedang melakukan ibadah thawaf. Dari pengalaman ini beliau yakin bahwa siapa yang menolong orang lain pasti akan ditolong.

Pribadi yang Menawan
Beliau adalah orang yang sangat perhatian terhadap janda dan anak yatim piatu. Beliau adalah sosok di balik berdirinya Yayasan Jalaluddin yang menyantuni mereka yang kurang mampu. Untuk hal itu beliau mencari donatur dari Saudi dan masyarakat di sekitar Bangil. Amal baik itu telah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun dengan jumlah anak yatim yang disantuni saat itu lebih dari 100 orang. Semua biaya mereka berada dalam tanggungannya termasuk biaya hidup dan pendidikan. Tidak lebih dari satu tahun sebelum wafat, beliau difitnah oleh orang yang tidak menyukai beliau. Mereka menciptakan fitnah bahwa beliau makan harta anak yatim. Padahal menurut orang-orang yang dekat dengannya, beliau justru memberi uang kepada anak-anak yatim itu dari saku pribadinya. Menghadapi fitnah tersebut, beliau tampak tenang dan sabar “itu masih ujian Allah dan pasti ada hikmahnya” demikian tuturnya seperti yang penuturan yang disampaikan oleh Musthofa Nasichin, putera terakhirnya.

Sebagai seorang pendidik, beliau dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan tepat waktu. Setelah suara bel tanda masuk kelas beliau langsung menghadiri kelas dan langsung mengisi materi pelajaran meskipun santri-santrinya banyak yang belum hadir. Satu cerita yang menarik dari putera beliau adalah saat beliau menunggu para jamaah datang ke mushalla, yang beliau lakukan saat menunggu jamaah adalah dengan membaca wirid sambil berjalan dan setiap ada jamaah yang masuk mushalla beliau yang menata sandalnya tanpa memandang siapapun orangnya meskipun santrinya sendiri.

Sikap beliau yang demikian itu membuat para jamaah merasa sungkan terhadap perlakuan beliau sehingga ada salah seorang jamaah yang berkata: “Tak totone dewe sebelum ustadz Nasichin yang noto” (biar saya sendiri yang mengatur sandalku sendiri sebelum didahului ustadz Nasichin).

Sebagai seorang anak, beliau dikenal berbakti kepada orang tuanya. Di mata beliau, orang tua itu adalah seperti Al-Qur’an yang tetap wajib dimuliakan. Meskipun sudah lusuh atau koyak sekalipun harus tetap dimuliakan. Setiap selesai mengajar dari pesantren Salafiyah beliau selalu menyempatkan diri datang untuk menjenguk ibunya dan memberinya sesuatu.

Beliau sangat bertanggung jawab kepada keluarga dan memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan anak-anaknya dalam segala urusan. Setiap malam beliau tak pernah lupa membangunkan anggota keluarganya untuk shalat tahajjud dan setiap malam jum’at pasti mengingatkan keluarganya untuk membaca Qur’an surah Al-Kahfi.

Menjelang usia senja, beliau mengidap komplikasi yang mengganggu kesehatan beliau. Meski begitu, hal itu tidak mengurangi intensitas beliau dalam mengajar yang sudah menjadi kehidupannya. Menjelang wafat, komplikasi yang dideritanya kambuh sehingga memaksa beliau menghentikan kegiatan mengajarnya dan membuatnya harus dirawat inap di rumah sakit Bangil. Sakitnya yang tak kunjung sembuh membuat beliau harus dirujuk ke rumah sakit Malang. Sore hari selepas ashar pada tanggal 4 Ramadhan 1430 H. beliau mengajak seluruh keluarganya yang telah berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah. Setelah takbir, ternyata beliau telah diizinkan untuk menghadap Sang pencipta. Beliau meninggal dalam keadaan shalat disaksikan putra-putrinya di bulan yang mulia, bulan Ramadhan di rumah sakit Malang. Ketika hari wafatnya tampak masjid Agung Bangil sesak dipadati jama’ah, yang terdiri dari para tokoh habaib, ulama dan kyai serta seluruh santri-santri beliau dan masyarakat sekitarnya yang ingin menemani beliau di saat terakhir dan menshalati jenazahnya. Rombongan jama’ah yang merasa kehilangan sosok yang mereka cinta terus mengiringi dan mengikuti prosesi pemakamannya di pemakaman umum Bangil hingga akhir.

Semoga allah selalu merahmati beliau, dan semoga kita mendapat rahmat allah berkat beliau. Amin.

Jangan Lupa Share klik
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gravatar Image
http://hilyah.id/ dengan Hilyah belajar Bahasa Arab lebih Mudah, Web ini disajikan oleh Nur Hanifansyah, berupa Materi Sederhana untuk memudahkan belajar bahasa arab dan inggris, kumpulan ceramah agama, khutbah, cerita tentang para ulama, para habaib dan para salaf sholeh, juga menyajikan pembelajaraan bahasa arab yang mudah sesuai tingkatan, pemula, menengah dan mahir / advanced, Mohon Dukungannya Selalu untuk Hilyah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *