Terjemahan Kitab Fathul Mu’in

Berikut ini adalah terjemahan dari bahasa arab Kitab Fathul Muin,

materi ke 5 – 11

Read More

Fathul Mu’in materi 05. وَيُبادِر)من مرَّ(بفائتٍ)وجوباًإنْ فاتَ بلاعُذْرٍفيَلْزمُهُ القضآءُفوْراً
Bersegera melaksanakan sholat yang ditinggalkan oleh orang yang telah disebutkan hukumnya adalah wajib, jika sholat tersebut ditinggalkan dgn tanpa udzur maka wajib baginya untuk bersegera mengganti / mengqodlo sholat tersebut.
قالَ شيخُنا احمدُبن حجرٍ رحمه اللّٰهُ تعالي والّذِيْ يظْهرُ أنّهُ يلزمُهُ صَرْفُ جميعِ زمنهِ للقضآءِماعاداما يحتاجُ لِصرْفِهِ فيما لابدَّمنهُ،و نّهُ يحرُمُ عليهِ التّطوُّعُ
Guru kita syeh Ibnu Hajar mengatakan =jelaslah bahwa baginya Wajib menggunakan seluruh Waktunya untuk mengganti solat yang di tinggalkan selain waktu yang ia butuhkan untuk digunakan dalam hal yang wajib, dan Haram baginya melaksanakan kesunahan
ويبادرُ به ندباً إن فاتَ بعذرٍكنومٍ لمْ يعْتَدَّبهِ ونسيانٍ كذالك
Sunah bersegera mengqodlo sholat yang ditinggalkan sebab udzur seperti tidur yg di sengaja,begitu pula sebab lupa yang di sengaja
(ويُسنُّ ترتيبهُ)أيِ الفائتِ فيقضيِ الصبحَ قبلَ الظُهرِوهٰكذا(وتقْديمُهُ علي حاضرةٍلايخافُ فوتَها)إنْ فاتَ بعذْرٍ وإن خشِيَ فوتَ جماعتِهاعلي المعتمدِ
Disunnahkan untuk menertibkan sholat yang ditinggalkan maka sholat subuh dikerjakan dulu sebelum sholat Dzuhur dan begitu seterusnya Disunnahkan mendahulukan sholat qodlo’ Atas sholat yang hadir yang tidak ditakutkan habisnya waktu jika sholatnya ditinggalkan dengan sebab udzur, walaupun orang tersebut takut kehilangan sholat berjamaah dari sholat yang hadir menurut pendapat yg mu’tamad
واذافاتَ بلا عذْرٍفيجبُ تقديمُهُ عليها
Jika sholat tersebut di tinggalkan dgn tanpa udzur maka wajb baginya untuk mendahulukan mengerjakan sholat qodlo dengan mengakhirkan sholat yg hadir
أماإذا خافَ فوْتَ الحاضِرةِبان يقعَ بعضهاوإن قلَّ خارِجَ الوقتِ فيلزمُهُ البدْءُ بها
Sedangkan apabila ia takut kehilangan waktu sholat yang hadir walaupun hanya sedikit diluar waktunya,maka Wajib baginya mengawali sholat yang hadir.
ويجبُ تقْديمُ ما فاتَ بغيرِعذْرٍعلي ما فاتَ بعذرٍوإنْ فقِدَ الترتيبَ لانهُ سنّةٌ والبدارُواجِبٌ
*Wajib mendahulukan sholat yang ditinggalkan tanpa ada udzur Atas sholat yang ditinggalkan dengan udzur walaupun menyebabkan kehilangan tartib,sebab hukum tartib sunah dan bersegera hukumnya wajib.
ويُندبُ تأخيرُالرواتبِ عنِ الفوائتِ بعذرٍ،ويجبُ تأخيرها عن الفوائتِ بغيرِعذْرٍ
Disunnahkan untuk mengakhirkan sholat rowatib dari sholat yang ditinggalkan dengan udzur dan wajib mengakhirkan shalat rowatib atas sholat yang ditinggalkan dengan tanpa udzur.
(تنْبيهٌ) من مات وعليهِ صلاةُفرضٍ لمْ تُقضَ ولم تفْدَ عنهُ،وفي قوْلٍ أنَّها تفعل عنه اوصي بها ام لا حكاهُ العُباّدي عنِ الشافعيِّ لِخبرٍ فيهِ وفعلَ بهِ السبكيُّ عنْ بعضِ أقارِبِهِ
PERINGATAN barang siapa meninggal dunia sedang ia masih memiliki tanggungan sholat fardhu maka sholatnya tidak wajib diganti dan tidak di bayar fidyah sebagai ganti sholat yang ditinggalkannya. sebagian pendapat mengatakan sholat tersebut dapat dikerjakan sebagai ganti sholat yang ditinggalkan,baik orang tersebut berwasiat atau tidak. Imam Al ubbadi menghikayatkan pendapat tersebut dari imam Syafi’i sebab adanya hadist tentang hal tersebut, dan imam Subki dengan pendapat tersebut melakukannya sebagai ganti sholat yang ditinggalkan oleh sebagian kerabatnya

Fathul Mu’in materi ke 07
(تنْبيْهٌ)ذكرَالسمعانِيُّ في زوجةٍصغيرةٍذات ابويْنِ أنَّ وجوبَ مامرَّعليهمافالزّوجِ،وقضِيّتهُ وجوبُ ضربهاَولوْفي الكبيرةِ كما صرّحَ بهِ جمال الاسلامِ البِزَرِيّ، قال شيخنا وهو ظاهِرٌ إنْ لمْ يخْشَ نُشوْزاً،واطْلَقَ الزركشيُّ النَّدْبَ
Peringatan imam assam’anie menyampaikan permasalahan seorang istri yang masih kecil yang masih memiliki kedua orangtua, bahwa kewajiban yang telah lewat dibebankan kepada kedua orang tuanya kemudian suaminya. Dampak hukum dari itu adalah kewajiban memukul istri tersebut,lmam Jamalul Islam Albizarie menjelaskan kewajiban memukul sang istri walaupun istri tersebut telah dewasa. Guru kita mengatakan =Hal itu jelas, ketika tidak di takutkan terjadi Nya Nusyuz
Sedangkan Imam Zarkasyi memutlakkan Hukum Sunah.

Fathul Mu’in materi 08
(فَصْلٌ في شروطِ الصّلاةِ)
FASAl
Tenang sarat saratnya sholat
━━━━━━━━━━━━━━
الشرطُ ما يتوقفُ عليهِ صحَّةُالصلاةِ وليسَ منها،وقُدِّمتْ الشروطُ علي الاركانِ لانهاأَوْلي بالتقديمِ،إذِالشرطُ ما يجب تقديمُهُ علي الصلاة واسْتِمْرارهُ فيها
Syarat adalah statu hal yang menjadikan sahnya shalat dan bukan bagian dari shalat,
Sarat sarat shalat lebih didahulukan daripada rukun rukunya sbb syarat lebih utama didahulukan Karena sarat adalah hal yang Wajib didahulukan Atas shalat dan harus selalu ada dalam shalat.
(شروطُ الصلاةِخمسةٌ أحدها طهارةٌ عن حدثِ وجنابةِ)الطهارةُ لغةً النظافةُ والخلوصُ من الدنَسِ،وشرْعاً رفعُ المَنْعِ المترتَّبِ علي الحدثِ او النجس
Syarat syarat sholat ada lima, yang pertama adalah suci dari hadast dan janabah , bersuci secara bahasa adalah bersih dan lepas dari kotoran, sedangkan secara syar’i adalah menghilangkan penghalang yang berupa hadast atau najis.
(فالاُولي)ايِ الطهارةُ عنِ الحدثِ(الوُضوءُ)هوبضمِّ الواوِاستعمالُ المآءِفي اعضآءٍ مخصوصةٍمفْتتَحةً بنيّةٍ،وبفتحِها ما يُتوضّأُ به،وكان ابتداءُوجوبِهِ مع ابتداءِوجوبِ المكتوبةِليلةَالاسرآءِ
Syarat sholat yang pertama___
(Untuk yang pertama) yaitu bersuci dari hadast adalah dengan cara Berwudlu. Lafal wudlu dgn membaca domah wawunya bermakna menggunakan air pada anggota anggota tertentu yang diawali dgn sebuah niat.
Dan dengan terbaca fathah wawunya bermakna sesuatu yang digunakan untuk Berwudlu.
Awal diwajibkannya Berwudlu adalah bersamaan dengan kewajiban shalat lima waktu pada malam isro’nya NABI SAW.
━━━━━━
(وشروطهُ)أيِ الوضوءِ(كَشروطِ الغُسْلِ)خمسةٌ،احدها (مآءٌمطلقٌ)فلا يرفعُ الحدثَ ولا يُزيلُ النجسَ ولايُحَصِّلُ سائرَالطهارةِ ولو مسنونةً إلا المآءُ المطلقُ،وهو ما يقعُ عليهِ اسمُ المآءِ بلا قيدٍ وإنْ رشَحَ من بُخارِ المآءِالطهورِ المغلي او ستهلكَ فيهِ الخليطُ، اوْ قيْدٍ بموافقةِ الواقعِ كمآءِالبحْرِ،بخلافِ ما لا يُذْكرُ الا مقيَّداًكمآءِالوَرْدِ
(Syarat wudlu)………
Syarat syarat Nya wudlu seperti halnya syarat syarat Nya mandi berjumlah Lima
Syarat yang pertama adalah menggunakan air mutlak. maka hadast dan najis tidak akan hilang, begitupula tidak akan dapat menghasilkan kesucian lain walaupun itu Sunnah kecuali dengan menggunakan air yang mutlak.
Air mutlak adalah sebuah penamaan air yang tidak terikat dengan sesuatu apapun.walaupun air tersebut menetes dari uap air suci yang mendidih,atau larut didalam nya sesuatu yang mencampuri,
Atau penamaan air tersebut terikat dengan sebab mencocoki dengan realita yang terjadi ,seperti air laut.
Hal ini berbeda dengan air yang tidak di sebut kecuali selalu terikat dengan nama lain seperti air mawar.

Fathul Mu’in materi 09
(غيرُمستعْملٍ)في فرضِ طهارةٍمن(رفعِ حدثٍ)أصغرَأوأكبرَولو من طهرِحنفيٍّ لم ينوِاو صَبِيٍّ لم يُميِّزْ لطوافٍ
Air mutlak tersebut haruslah Belum digunakan untuk kefardluan bersuci,yakni dari menghilangkan hadast kecil ataupun besar walaupun dari bekas bersuci orang madhab Hanafi yang tidak berniat, atau dari seorang anak kecil yang belum tamziy untuk ibadah towaf
(وإزالةِنجسٍ)ولومعْفُوًّاعنْهُ (قليلا) أيْ حالَ كونِ المستعمل قليلاً أي دون القلتينِ،
Dan belum digunakan untuk menghilangkan najis walaupun najis tersebut dima’fu sedang keadaan air yang digunakan tersebut adalah air yang jumlahnya sedikit(kurang dari dua qullah)
فإنْ جُمعَ المستعملُ فبلغَ قلّتين فمطهِّرٌ،كمالوجمع المتنجّسُ فبلغَ قلتينِ ولم يتغيّرْ وان قَلَّ بعدُبتفريقهِ
Jika seandainya ada air musta’mal di kumpulkan hingga mencapai dua qullah maka air tersebut dihukumi suci dan mensucikan,
Seperti halnya ada air yang terkena najis kemudian di kumpulkan hingga mencapai dua qullah dan sifat air tidak berubah walupun setelah itu air menjadi sedikit dengan memisah misahkanya
فعلمَ أنّ الاستعمالَ لايثبتُ إلامع قِلّةِ المآءِ اي وبعدَ فصلهِ عن المَحَلِّ المستعمل ولوحكْماً كأَنْ جاوزَ منْكِبَ المتوضِّئِ اورُكْبَتَهُ وان عادلمحلِّهِ أو انتقل مِنْ يدٍلاخْريٰ
Maka dari itu dapat diketahui bahwa air musta’mal tidak akan ada kecuali pada air yang jumlahnya sedikit dan setelah terpisahnya air dari tempat digunakannya air tersebut walaupun secara hukum saja,seperti melampauinya air dari pundaknya orang yang Berwudlu atau lututnya walaupun air tersebut kembali ke tempat semula, atau air berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain.
نعمْ، لايضُرُّ في المحدثِ انفصالُ المآءِمن ا لكفِّ الي الساعدِ،ولافي الجُنُبِ انفصالُهُ من الرأْسِ الي نحوِالصّدْرِ ممّا يغلب فيه التقاذُفُ
Benar, bahwa air yang telah berpisah walaupun secara hukum dikatakan musta’mal ,namun tidak masalah terpisahnya air dari telapak tangan menuju lengan bagi seorang yang hadast, dan bagi orang yang junub TDK masalah berpisahnya air dari kepala menuju semisal dada yaitu dari setiap anggota yang secara umumnya air tersebut menetes (فرعٌ)لوْأدْخلَ المتوضِّئُ يده بقصدِالغسل عن الحدثِ اولا بقصدٍبعد نيّةِالجنبِ او تثليث وجهِ المحدثِ او بعد الغَسْلةِ الاولي ان قصدَالاقتصارَعليها بلانيّةِاغترافٍ ولاقصدِاخذِالمآءِلغرضٍ أٓخَرَصار مستعملاً بالنسبةِلغيرِيدِهِ،فله ان يغسلَ بمافيهاباقِيَ ساعِدِها
Cabang masalah kalau seandainya seorang yang Berwudlu memasukkan tangannya dengan maksud basuhan menghilangkan hadast,ataupun orang tersebut tidak berniat seperti itu,namun setelah berniat mandi junub,atau setelah mengulang tiga kali dalam membasuh wajah seorang yang hadast kecil atau setelah basuhan pertama (jika ia meringkas dengan satu basuhan saja) dengan tanpa berniat ightirof © ,dan juga tidak bertujuan mengambil air karena tujuan lain selain bersuci,maka air tersebut menjadi musta’mal untuk selain tangannya dan baginya diperbolehkan untuk membasuh lengannya dengan air yang berada pada tangannya ®
▁ ▁ ▁ ▁ ▁ ▂▁ ▁ ▁ ▁ ▁
©Niat ightirof adalah Niat mengeluarkan air dari bejana untuk digunakan bersuci diluarnya,waktu Niat adalah sebelum menyentuh air tersebut.ket ianatut tolibin juz 1 hal 39.
® Kesimpulannya. Jika semisal seseorang ingin Berwudlu dari air yang berada dalam bejana yang kurang dari dua qullah maka pada saat wudlu dan sampai membasuh tangan,disaratkan sebelum mengambil air untuk anggota tangan tersebut untuk berniat ightirof supaya air yg tersisa pada bejana tersebut tidak menjadi musta’mal bagi anggota setelah tangan.(pen)
▁ ▁ ▁ ▁ ▁ ▁ ▁ ▁ ▁ ▁

Materi Fathul Mu’in 10
{وغيرُ متغيّرٍ تغيُّرا كثيرا}بحيثُ يمنعُ إطلاقَ اسمِ المآءِ عليهِ بأن تغيّرَ احدُ صفاتهِ من طعمٍ او لونٍ او ريحٍ ولوْ تقديريّاً،اوكان التغيرُبما علي عضوالمتطهرفي الاصحِّ
Dan tidak ada perubahan dengan perubahan yang banyak sekira perubahan tersebut dapat mencegah kemutlakan nama air, sebagaimana perubahan yang terjadi pada salah satu sifatnya air,yakni rasa,warna, dan baunya walaupun perubahannya hanya secara perkiraan, atau adanya perubahan sebab sesuatu yang berada pada anggota orang yang bersuci menurut pendapat ashah
وانما يؤَثَّرُ التغيرُ ان كان(بخَليطٍ)اي مخالِطٍ للمآءِ،وهو ما لا يتميزُ في رأْيِ العينِ(طاهِرٍ)وقدْ(غنِيَ)المآءُ (عنهُ)كزعْفرانٍ وثمرِ شجرٍ نبتَ قربَ المآءِ وورَقٍ طرِحَ ثُمَّ تفَتّتَ لاترابٍ وملحِ مآءٍوإنْ طرحا فيهِ
Perubahan hanya akan mempengaruhi apabila perubahan disebabkan oleh sesuatu yang mencampuri air yakni mukholit , mukholit adalah benda yang tidak bisa dibedakan dalam pandangan mata,
(Yg bersifat suci) dan (air tersebut dapat terhindar dari percampuran tersebut) seperti minyak zakfaron,buah dari pohon yang tumbuh di dekat air Dan dedaunan yg di jatuhkan kemudian hancur didalamnya, bukan debu dan garam air walaupun dijatuhkan kedalam air ولايضُّرُ تغيرٌلايمنعُ الاسمَ لِقلّتهِ ولواحتمالاًبأنْ شكَّ اهو كثيرٌ او قليلٌ
وخرج بقولي بخليطٍٍ المجاوِرُوهو ما يتميزُللناظركعُوْدٍودُهْنٍ ولو مطيبينِ،ومنه البُخورُوإنْ كثُرَوظهرَنحْوُ ريحِهِ خلافاً لجمعٍ،ومنه ايضاًمآءٌ اُغْلِيَ فيهِ نحوُبُرٍّوتمْرٍحيثُ لم يُعلمْ انفصالُ عينٍ فيهِ مخالطةٍ بأنْ لمْ يصلْ إلي حَدٍّبحيثُ له إسمٌ أٰخرُكالْمَرَقَةِ
Tidak masalah sebuah perubahan yang tidak merubah kemutlakan nama air sebab perubahannya sedikit, walaupun terjadi kemiripan seperti seorang yg ragu apakah perubahan tersebut banyak atau sedikit?…
Ucapan saya Mukholit mengecualikan Mujawir yaitu benda yg terlihat berbeda dengan air seperti kayu, minyak, walaupun keduanya dibuat wewangian.
Sebagian dari benda mujawir adalah tetesan air yang mendidih walaupun sangat banyak dan baunya tampak jelas,berbeda dengan pendapat sekelompok ulama.
Sebagian lagi adalah air yang mendidih sedang didalamnya terdapat sejenis gandum dan kurma sekira tidak diketahui terpisahnya sebuah bentuk benda yang mencampuri air dengan tidak terjadinya penamaan yang lain seperti air kuah.
ولوشُكَّ في شيْءٍ أمخالِطٌ هو ام مجاورٌ؟… له حكمُ المجاورِ،و بقولي غنِيَ عنهُ ما لايستغني عنهُ كما في مَقَرِّهِ وممرهِ من نحوِطِينٍ وطحلُبٍ مُتَفَتِّتٍ وكبريتٍ،وكالتغيُّرِبطول المُكْثِ او باوراقٍ متناثرةٍ بنفسها وان تفتَّتتْ وبعدت الشجرةُ عن المآءِ
Kalau seandainya sebuah benda diragukan apakah mukholit atau mujawir?….maka benda itu dihukumi mujawir
Ucapanku ( dapat dihindarkan dari air) mengecualikan pula sesuatu yang tidak dapat dihindarkan seperti sesuatu benda yang berada pada tempat menetapnya air dan mengalirnya air, seperti sejenis lumpur,lumut yang hancur, belerang,.
Dan seperti perubahan sebab diam terlalu lama atau dedaunan yang berguguran dengan sendirinya walaupun hancur dan pohonnya jauh dari air tersebut.

Fathul Mu’in pertemuan ke 11
•••••••••••••••••••••••••••••
(أوْبِنجسٍ)وإن قلَّ التغيُّرُ(ولوكان المآءُكثيراً)اي قلَّتينِ او اكثرَفي صورَتَيِ التغييرِبالطاهِرِ والنجسِ
(Atau perubahan terjadi dengan sebab najis) walaupun perubahannya hanya sedikit Dan walaupun adanya air tersebut banyak yakni dua qullah lebih dalam contoh perubahan dengan menggunakan perkara yang suci dan najis
والقلتانِ بالوزن خمسمائةِرِطْلٍ بغْدادِيٍّ تقريباً
وبالمساحةِ في المُرَبَّعِ ذراعٌ وربعٌ طولاوعرضاًوعمقاً بذراعِ اليدِ المعتدلةِ
Ukuran air dua qullah dengan timbangan adalah sekitar 500 liter bagdad,
Sedangkan dua qullah dengan alat ukur dalam wadah kubus adalah 1 1/4 hasta orang normal setiap panjang,lebar,dan dalamnya
وفي المدَوَّرِ ذراعٌ من سائرِ الجوانبِ بذراع الادميِّ وذراعانِ عمقاًبذراع النجّارِوهو ذراعٌ وربعٌ
Sedang dalam wadah silinder atau bulat adalah dengan diameter 1 hasta manusia disetiap sisi Dan dalamnya 2 hasta dengan hasta tangan Tukang kayu, yakin 1 1/4 hasta tangan biasa
ولاتنجس قلتا ماء ولواحتمالا كأن شك في ماء أبلغهما ام لا،وان تيقنت قلته قبل،
بملاقاة نجس مالم يتغير به وإن استهلكت النجاسة فيه،
ولاتجب التباعد من نجس في ماء كثير
Air yang berjumlah dua qullah meskipun masih kemungkinan, seperti diragukan apakah air tersebut sudah mencapai dua qullah ataupun belum, dan walaupun sebelumnya diyakini sedikitnya jumlah air tersebut tidak dapat dihukumi najis dengan sebab terkena najis selama najis tersebut tidak merubah sifat air,dan walaupun najis tersebut larut didalamnya.
Tidak Wajib menjauhi Najisdi air yang berjumlah banyak ©
•••••••••••
© Maksudnya tidak wajib menjauhi Najis yang berada di air yang berjumlah banyak saat menciduk air ditempat tersebut bahkan diperbolehkan untuk menciduk ditempat manapun sampai berada ditempat terdekat dengan Najis itu. ianatuttolibin juz1 hal42
ولوبال في البحر مثلاً فارتفعت منه رغوة فهي نجسة إن تحقق أنها من عين النجاسة أومن المتغير أحد أوصافه بها وإلا فلا
Kalau seandainya seseorang kencing dilaut , kemudian terjadi buih maka buih tersebut dihukumi Najis bila jelas buih itu dari air kencingnya atau dari air yang telah berubah salah satu sifatnya sebab air kencing tersebut, Dan bila tidak seperti itu maka tidaklah dihukumi Najis.
ولو طرِحتْ فيه بعرةٌفوقعتْ من أجل الطرحِ قطرةٌعلي شيءٍلمْ تُنَجِّسْهُ
Jika sebuah kotoran kering dilemparkan ke dalam air,lalu dari pelemparan tersebut menimbulkan percikan air yang mengenai pada suatu benda maka benda tersebut tidak dihukumi Najis

Jangan Lupa Share klik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *