Mindset Menulis FREE WRITING PINTU PERTAMA MENULIS

  • Whatsapp

Berikut adalah Mindset Menulis yaitu FREE WRITING PINTU PERTAMA MENULIS yang akan memudahkan kita untuk mengoptimalkan dan mengasah kemampuan menulis kita

FREE WRITING PINTU PERTAMA MENULIS

Read More

PEPIH NUGRAHA

“Ayo anak-anakku sekalian, sekarang kamu mengarang bebas,” demikian guru bahasa Indonesia sekolah dasar mengajak murid-muridnya mengarang. Saya adalah salah satu di antara 50 murid di kelas itu. Peristiwa terjadi tahun 1976.

Saya tidak tahu lagi apakah guru-guru sekolah dasar sekarang masih mengajak murid-muridnya mengarang bebas? Apakah para guru paham apa yang dimaksud “mengarang bebas” itu? Kalau gurunya saja tidak paham, bagaimana muridnya bisa mengerti?

Mengarang bebas dalam khasanah ilmu menulis disebut “free writing”. Kelak setelah saya paham mengenai konsep ini di kemudian hari, saya mengembangkan variannya menjadi “speed writing”.

Ini terkait dengan melatih kecepatan menulis sehar-hari dengan tujuan mengindari kemacetan dalam menulis itu. Percaya atau tidak, saya masih melakukan “speed writing” ini sampai saat ini, minimal membuat status di media sosial.

Kembali ke suasana kelas saat saya dan teman-teman diminta mengarang bebas oleh guru bahasa Indonesia…

Sungguh menakjubkan; tidak ada seorang pun siswa yang bertanya kepada guru, “Apa yang harus saya tulis?”. Para siswa, termasuk saya, sudah langsung memasang “basic instinct” masing-masing. Langsung menulis begitu saja, seolah-olah dibimbing naluri yang datang dari dunia ghaib.

Apa yang terjadi ketika naskah yang ditulis tangan para siswa, termasuk saya, dikumpulkan dan secara acak guru meminta siswa membacakan hasil karangan bebasnya di depan kelas? Bisa menebak apa kira-kira tema yang mereka angkat? Benar… “Berlibur ke rumah Nenek”.

Kamu boleh saja senyam-senyum, tetapi memang itu yang terjadi!

Salahkah mereka mengarang bebas dengan tema yang sudah sangat umum seperti itu? Tidak! Sudah benar itu. Para siswa menulis tema itu berdasarkan PENGALAMAN atau peristiwa yang mereka alami, rasakan dan lakukan sendiri.

Jelaslah pengalaman akan membekas di kepala para siswa sebab hampir semua siswa pernah berlibur, bukan? Semua punya pengalaman yang sama. Tidak ada salahnya kalau pengalaman itu mereka tulis.

Balik ke kamu yang sedari tadi bengong saja mendengarkan saya, mestinya kamu tadi malu saat mengatakan dan mengeluh kepada saya “Ga punya ide menulis!” Kamu mestinya malu dengan anak-anak masa lalu, berlipat-lipat warsa dari jamanmu, bahwa mereka sudah terbiasa menulis berdasarkan pengalaman mereka, betul?

  • Apakah kamu tidak punya pengalaman hidup sedikitpun sehingga tidak ada yang bisa kamu tulis, Dek?
  • Sungguh, Kang, saya ga punya pengalaman, kerjaan saya selama ini tidur melulu.
  • Bagus… Kalau begitu tulis pengalaman tidurmu itu, Dek!
  • Hah? Pengalaman tidur!? Yang bener, Kang? Apa penting dan menariknya urusan tidur?
  • Belum juga mulai menulis kamu sudah bicara soal penting dan menarik, tulis saja dulu pengalamanmu, siapa tahu pembaca bisa mengambil manfaat dari apa yang kamu tulis itu!

Itu percakapan antara saya dengan Adek berparas manis, murid saya satu-satunya yang ngeyelnya luar biasa itu. Maunya ia langsung jadi “penulis moyan”, kata orang Sunda, yang berarti penulis terkenal. Ia malas belajar proses menulis, maunya namanya sudah langsung dikenal dimana-mana sebagai penulis jempolan. Dikira jadi penulis itu seperti Youtuber yang dari “bukan siapa-siapa” mendadak jadi “siapa-siapa” secara instan. Tetapi saya salut pada kengototannya belajar menulis.

Balik lagi ke mengarang bebas ala sekolah dasar. Apabila hampir 90 persen siswa menulis dengan tema berlibur ke rumah nenek, kakek atau paman, saya menulis berdasarkan apa yang saya baca (di koran/majalah) dan apa yang saya dengar (dari radio, televis baru punya tahun 1978).

Sejak sekolah dasar saya baca koran Kompas, Suara Karya Minggu, Mingguan Pelajar, Majalah Kuntjung, Majalah Gondewa dan Mangle (berbahasa Sunda), Majalah Femina (karena almarhumah Ibu langganan) dan sesekali Bobo. Semua koleksi buku perpustakaan sekolah sudah saya lahap.

Jadi apa yang saya tulis? Saya menulis tentang “Satelit Palapa!” Hahaha…. berat, Bro! Kelak di tahun 1977 saya menyempurnakan tulisan untuk dilombakan di tingkat Kabupaten Tasikmalaya.

Sudahlah…. jangan terhanyut peristiwa masa lalu yang takkan pernah kembali, nanti dikira glorifikasi diri pula. Sebenarnya yang ingin saya katakan, inti mengarang bebas atau “free writing” itu apa saja bisa ditulis. Masih ingat ‘kan penggunaan INDERA untuk menggali ide menulis yang sudah saya sampaikan tempo hari?

Nah, apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu rasakan, apa yang kami pikirkan, semua bisa menjadi bahan baku untuk menulis.

Jangan muluk-muluk, mengarang/menulis gaya bebas sajalah dulu, yang penting kamu lancar bercerita, nanti saya arahkan ke mana jurusan ceritamu itu: jurusan NEWS, jurusan OPINI, jurusan FEATURE, atau jurusan FIKSI.

Tahukah kamu apa yang barusan saya lakukan dengan tulisan yang baru kamu baca ini?

Benar, saya baru saja mengarang bebas!

PEPIH NUGRAHA

Jangan Lupa Share klik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.