Faedah Keutamaan Keyakinan dan Iman

  • Whatsapp

Faedah Keutamaan Keyakinan dan Iman

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwasanya kita wajib menguatkan keyakinan. Karena dengan demikian kita meyakini bahwasanya kehidupan ini terdapat sebuah tujuan, yaitu untuk menggapai ridho-Nya dan meraih syurga-Nya serta menyelamatkan diri daripada murka dan neraka-Nya yang itu semuanya dapat dihasilkan dengan melaksanakan tiga hal seperti tersebut diatas. Sehingga faedah daripada kita menjaga, membina, menempa dan mendidik jiwa untuk menguatkan keyakinan kita, ada beberapa faedah yang akan kita dapatkan yaitu sebagai berikut:’

1. Kita akan yakin dengan janji Allah , baik di dunia maupun di akhirat.
Di dunia dengan akan kita raih kebahagiaan serta kesejahteraan bagi mereka yang taat, serta bagi mereka yang taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan akan mendapatkan syurga dan ridho-Nya kelak di akhirat. Begitu pula sebaliknya, jika kita melakukan sebuah dosa dan melanggar aturan-Nya di dalam syariat ini, maka kita pasti akan celaka dan sengsara. Di dunia dengan tidak meraih kebahagiaan, bahkan kesusahan, kesedihan, dan kesengsaraan, dan di akhirat akan mendapatkan murka dan neraka-Nya. Wal ‘iyadzu billah…
2. Meyakini dengan jaminan Allah .
Tatkala iman sudah kuat di dalam diri seseorang, maka dia akan meyakini bahwa semua janji Allah kepada hamba-Nya adalah benar dan akan terlaksana. Dengan demikian seorang Nabi dan seorang Rasul tidak pernah dia menggubris ataupun merisaukan dan meragukan apa yang akan dimakan baik pada hari itu maupun esok hari karena mereka sangat yakin dengan jaminan Allah SWT. Misalnya disebutkan di dalam Al-Qur’an:
قال الله تعالى : وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (هود: 6)
Tidak ada satupun binatang yang melata di muka bumi ini kecuali Allah yang menjamin rizkinya. (Q.S. Hud: 6)
Sehingga tatkala seseorang sudah kuat keimanannya, ketika dia berangkat ke toko atau ke tempat usahanya, maka dia dalam keadaan sudah meyakini bahwa Allah akan memberikannya rizki sesuai yang ditentukan-Nya pada hari itu sehingga dia tidak ngoyo dan tidak berdosa didalam usahanya dengan mengatakan –misalnya-, “Kenapa pelanggan sainganku itu lebih banyak? Jangan-jangan dia itu memakai pesugihan?”, dan lain sebagainya. Atau dia memaksakan diri jangan sampai terlambat berangkat ke toko karena takut kehilangan pelanggan, dan sebagainya. Ketika dia yakin, dia tidak akan menggubris kepada bisikan-bisikan semacam itu karena dia sangat meyakini bahwa rizqi Allah tidak akan kemana-mana. Yang untuknya pasti akan sampai kepadanya, sedangkan yang ditulis untuk orang lain tidak akan sampai kepadanya.

3. Antusias untuk meraih rahmat dan ridho-Nya.
Tatkala seseorang sudah kuat keyakinan dan keimanannya, maka dia akan meyakini bahwa segala sesuatu di muka bumi ini berdasarkan kepada ketentuan dan kehendak-Nya, sehingga dia akan menyibukkan diri dan antusias untuk melakukan segala macam ibadah. Karena dia meyakini hanya dengan ibadahlah dia akan mendapatkan ridho-Nya, dan dengan ridho-Nya dia akan mendapatkan segalanya. Karena semua yang terkait dengan makhluk-Nya, semua berada ditangan-Nya, berada di dalam kekuasaan-Nya.

4. Berpaling dari dzat selain Allah.
Ketika seseorang sudah kuat keimanannya dan keyakinan, maka tidak ada lagi tempat didalam hatinya selain untuk Allah . Sehingga dia akan selalu menjunjung tinggi semua perintah-Nya serta larangan-Nya, serta tidak akan menggubris lagi apapun yang akan dilakukan makhluk, cercaan, celaan, maupun yang lainnya jika hal ini sudah bersebrangan dengan syariat yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Kita melihat kepada anak didik Nabi Muhammad SAW yang bernama Habib bin Zaid ketika dia ditangkap oleh Musailamah Al-Kadzzab lalu dia disiksa dan dipaksa untuk mengatakan bahwasanya Musailamah adalah Nabi setelah Nabi Muhammad . Maka dengan sadar diri, dengan tanpa rasa takut sama sekali ketika ditanya, “Apakah kamu mengakui bahwasanya aku adalah Nabi-Nya?” Maka dia mengatakan, “Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan.” Tapi ketika ditanya, “Apakah Nabi Muhammad adalah seorang Nabi?” Dia menjawab, “Iya, Muhammad adalah seorang Nabi.” Dia menjawabnya dengan tegas dan tangkas. Tapi saat dia bertanya lagi, “Apakah aku adalah Nabi-Nya?” Maka lagi-lagi dia menjawab, “Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan.” Padahal setiap kali dia bertanya, setiap kali itulah dia memotong organ tubuhnya mulai dari telinga, tangan, serta kakinya, tapi yang semacam itu tidak menyurutkannya dan tidak memundurkannya daripada apa yang dia yakini dan tidak memalingkannya segala hal yang menyakitkan badannya karena jiwanya sudah merasa tenang dan merasa yakin kepada janji Allah .

5. Selalu kembali kepada Allah dalam semua keadaan.
Tatkala seseorang sudah kuat keimanan dan keyakinannya, maka dia akan kembali kepada Allah dalam semua keadaannya, baik dalam keadaan bahagia dan menyenangkan. Dia akan kembali bahwasanya kebahagiaan dan kesenangan itu hanya datang daripada Allah dan itu berkat ketaatan yang dilaksanakannya. Dan tatkala dia mendapatkan musibah dan bencana ataupun bala’ serta kesusahan, maka dia kembali kepada Allah dengan mengatakan bahwasanya kesusahan dan bala’ serta bencana itu semata-mata datangnya dari Allah yang bisa jadi sebagai sebuah teguran baginya, atau sebuah peleburan atas dosa-dosanya, atau pula sebagai sebab meningkatnya derajatnya di mata-Nya. Sehingga dalam dua keadaan dia selalu kembali kepada Allah dan dia akan berkeyakinan di dalam jiwa dan hatinya bahwa semua yang ditentukan Allah adalah yang terbaik untuknya.

6. Mengguanakan seluruh waktunya, kekuatan, usaha, dan upayanya untuk meraih ridho-Nya.
Ketika seseorang sudah kuat keimanan dan keyakinannya, maka dia akan menggunakan seluruh usaha, upaya dan tindak tandukny hanya untuk meraih ridho-Nya, dan menjauh daripada murka-Nya. Dia tidak sholat kecuali karena untuk meraih ridho Allah, dan dia tidak menjauhi segala hal yang dosa kecuali akrena takut mendapat murka-Nya, bukan karena untuk mencari pujian di mata manusia ataupun menanggung rasa malu didalam pandangan makhluk-Nya.

Kesimpulannya bahwa kuatnya keyakinan seseorang adalah pertanda kekuatan imannya. Sehingga tatkala seseorang sudah kuat keimanan dan keyakinannya, maka dia akan meraih semua kedudukan yang sangat mulia dan mudah baginya melaksanakan semua akhlak-akhlak yang terpuji dan amalan-amalan yang sholeh. Sedangkan semua budi pekerti yang baik dan amal-amal yang sholeh itu karena pengaruh keyakinannya yang sangat kuat. Tambah kuat keyakinan seseorang, tambah baik amal maupun akhlak seseorang. Tambah jelek keyakinannya, maka akan jelek pula serta buruk amal maupun budi pekertinya. Begitupula tambah kurang keyakinan seseorang, maka akan terindikasi sakit keimanannya. Dan ketika sempurna keyakinannya, maka akan mendapatkan keyakinannya sempurna dalam keadaan sehat. Sehingga pantas jika Sayyidina Lukman Al-Hakim berkata kepada putranya, “Tidak ada seorangpun yang berakhlak kecuali dengan dasar keyakinannya. Dan tidak ada seorang yang melaksanakan amal kebaikan kecuali karena kesempurnaan keyakinannya. Dan tidak akan kurang amalnya kecuali juga karena kurang keyakinannya.”
Oleh karena itu Sayyidina Abdullah bin Mas’ud berkata:
اليَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّه
Keyakinan adalah iman seutuhnya.

Jangan Lupa Share klik

Leave a Reply

Your email address will not be published.