Sejarah Tarekat Ba’alawi Sadah Ba’alawiyah, Tarekat Para Habaib

  • Whatsapp

Sejarah Thariqah Sâdah Ba ‘Alawi dan Para Tokohnya Nasab para Sâdah Ba ‘Alawi kembali kepada datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam al-Muhâjir, Ahmad bin Isa an-Naqîb,
yakni naqîb (pemimpin) para syarif di Irak, bin Muhammad anNaqîb bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shâdiq bin Muhammad al-Bâqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin
Abu Thalib. Kehidupan Imam Ahmad al-Muhâjir dijalani di Bashrah. Di daerah inilah dia tumbuh dan berkembang. Pada saat itu, Ahlulbait berada di dalam kehormatan dan pemeliharaan. Tetapi para khalifah Bani ’Abbas yang menjadikan Irak sebagai pusat mulai melemah kekuasaan. Lalu muncullah gerakan-gerakan dan pemberontakanpemberontakan.

Sedikit demi sedikit fitnah melanda Irak, yang paling besar di antaranya adalah hadirnya kaum Qaramithah yang menyerang Bashrah di awal abad ke-4 H, dan munculnya kelompok
orang-orang Sudan.

Pada situasi yang kacau itu, orang-orang saleh yang menjauhkan diri dari dunia, tak dapat menghadapinya. Tepatnya pada tahun 317 H, Imam Ahmad bin Isa pun hijrah—yang karena itu beliau digelari al-Muhâjir—untuk menghindari fitnah-fitnah yang bergelombang.

Beliau meninggalkan Bashrah bersama tujuh puluh orang dari keluarga dan para pengikutnya. Beliau menempuh jalan menuju Hijaz agar rombongannya dapat singgah setahun di Madinah.
Setelah itu, menuju Tanah Haram Makkah pada tahun ketika kaum Qaramithah memasuki kota ini dan merampas Hajar Aswad.

Kemudian Imam Ahmad al-Muhâjir keluar dari Makkah melalui padang sahara menuju ’Asîr lalu ke Yaman. Lalu takdir membawa mereka ke Lembah Hadramaut, lembah terpencil dengan
sedikit kekayaan, yang sebagian besar daerahnya saat itu dikuasai oleh kaum Khawarij Ibadhiyah.
* * *

Imam al-Muhâjir pertama kali singgah di negeri Hajrain. Setelah itu pindah ke Kindah, dan akhirnya menetap di Husayyisah. Karena suatu hikmah mendalam dan faktor-faktor penyebab yang Allah siapkan, masa kekuasaan mazhab Ibadhiyah tidak berlangsung lama. Setelah terjadi adu argumentasi antara mereka dan al-Muhâjir dan pengikutnya serta orang-orang yang menolong dan bergabung dengan mereka dari pengikut Ahlussunnah di sana, maka sebagian
besar lembah ini dapat dibersihkan dari kejahatan kaum Khawarij dan para pengikutnya. Setelah itu Ahlussunnah mengakar di sini dan orang-orang pun menganut mazhab mereka.

Imam Muhâjir mempunyai anak bernama ‘Ubaidillah, yangkemudian mendapatkan tiga orang anak, Bashri, Jadid, dan Alwi. Kepada Alwi inilah keturunan para Sadah Ba ‘Alawi bernasab
sebagaimana telah disebutkan di atas. Sedangkan keturunan kedua saudaranya habis bersamaan dengan berakhirnya abad keenam Hijriah.

Beberapa lama setelah al-Muhâjir wafat, keturunannya pindah ke kota Tarim yang dinamai dengan nama raja yang membangunnya, yaitu Tarim bin Hadramaut.  Mereka menetap di sana pada tahun 521 H. Keturunan al-Muhâjir yang pertama mendiami kota ini adalah al-Imam Ali bin Alwi, yang dikenal sebagai Khali` Qasam dan saudaranya, Sâlim, serta mereka yang segenerasi dengan keduanya dari keturunan Bashri dan Jadid yang ada pada saat itu

Maka Tarim pun yang dijuluki al-Ghanna menjadi tempat tinggal keturunan yang mulia ini. Lalu muncullah di sana ma`had-ma`had kebajikan dan banyak pula terdapat masjid. Di samping itu, kota ini menjadi mulia karena terdapat jasad sejumlah sahabat mulia yang meninggal di sana, saat memerangi orang-orang murtad.
* * *
Sumber-sumber sejarah tidak memberikan data yang rinci tentang periode pertama kaum ‘Alawiyyin. Informasi sejarah lebih banyak dimulai sejak periode dua anak Imam Muhammad bin Ali, yang dikenal sebagai Shahib Mirbath , yaitu Ali (ayah dari al-Faqîh alMuqaddam) dan Alwi (yang dikenal sebagai paman dari al-Faqîh al-Muqaddam), dan periode sesudahnya. Kepada kedua orang inilah kembalinya nasab semua keluarga Ba ‘Alawi di masa sekarang ini.

Peletak pondasi sebenarnya pada bangunan thariqah ini adalah al-Imm Muhammad bin Ali Ba ’Alawi yang digelari dengan al-Faqîh al-Muqaddam yang lahir di Tarim pada tahun 574 H dan wafat di sana pada tahun 653 H. Yang diterima oleh beliau—meskipun dari jauh—dari seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi, yang dikenal dengan gelar al-Ghauts melalui perantara beberapa pengikut Abu Madyan yang sampai ke Makkah. Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqîh yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-Dunya (wafat tahun 1162 H) mengatakan, “Asal Thariqah Sadah Ba ’Alawi adalah Thariqah Madyaniyyah, yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu‘aib al-Maghribi. Sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqîh al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawi alHusaini al-Hadhrami. Thariqah ini diterima oleh para pemimpin.

dari para pemimpin yang mendahuluinya dan diwariskan kepada
orang-orang besar yang memiliki maqâmât dan ahwâl.

* * *

Setelah masa al-Faqîh al-Muqaddam, di tangan keturunannya thariqah ini tetap mengikuti sistem dan cara beliau. Tetapi karena Thariqah ‘Alawiyah merupakan jalan yang mementingkan
tahqiq (pendalaman), rasa, dan rahasia, cenderung bersikap khumul (menutup diri) dan merahasiakan, maka mereka tidak membuat suatu karangan tentang itu. Periode pertama ini
berlangsung demikian hingga zaman al-‘Aydarus (wafat 864 H) dan saudaranya, asy-Syaikh Ali (wafat 892 H). Ketika itu wilayah penyebarannya semakin meluas sehingga dibutuhkan suatu
karangan. Maka muncullah karangan-karangan—mengenai adab thariqah ini dan petunjuk-petunjuk untuk menjalaninya—yang menenangkan hati dan menyenangkan jiwa, seperti al-Kibrit alAhmar, al-Juz al-Lathîf, al-Ma’ârij, al-Barqah8, dan sebagainya. Lalu muncullah di antara para pemuka thariqah ini orangorang yang memiliki keunggulan dalam kecerdasan serta dalam
ilmu dan amal dibandingkan teman-teman seangkatan dan orang-orang yang lebih dulu dari mereka. Sebagian mereka bahkan telah mencapai derajat seorang mujtahid dalam fiqih.

Sedangkan sebagian yang lain, muncul keajaiban-keajaiban kewalian yang dapat menyamai orang-orang di masa lalu, seperti asy-Syaikh al-Quthb Abdurrahman as-Saqqâf (wafat 819 H)
yang dijuluki al-Muqaddam ats-Tsâni (al-Muqaddam kedua) dan anaknya al-Imam al-Ghauts Umar al-Muhdhar (wafat 833 H), juga al-Quthb Abdullah bin Abu Bakar al-‘Aydarus (wafat
865 H) dan anaknya Abu Bakar al-‘Adni (wafat 914 H) yang dimakamkan di ‘Adan, asy-Syaikh Abu Bakar bin Sâlim yang dikenal dengan Fakhrul-Wujûd (wafat 992 H), asy-Syaikh alImam Umar bin Abdurrahman al-Attas (wafat 1072 H), dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya. Sehingga thariqah ini sampai kepada pembaharu menaranya dan penyebar cahayanya, alImam Syaikh al-Islam Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alwi al-Haddad (1132 H).

Di tangan al-Imam al-Haddad, thariqah ini mengambil metode baru yang dinamainya Thariqah Ahl al-Yamîn. Beliau berpandangan bahwa yang paling sesuai dengan orang-orang di masa itu, yang paling dekat dengan keadaan mereka, dan yang paling mudah untuk menarik mereka menuju ketaatan adalah menghidupkan kehidupan keimanan mereka, yang dengan perannya dapat menyiapkan mereka untuk meningkat kepada tangga ihsan. Buah dari metode
ini merupakan buah terbaik dalam dakwah, dan perbaikan kondisi keagamaan manusia pada umumnya. Thariqah ini tersebar sangat luas di berbagai wilayah dan tetap mengambil metode pilihan iniuntuk dakwah umum sampai sekarang.

Al-Imam Abdullah al-Haddad telah memberikan pengaruh yang sangat penting. Wirid-wirid, ucapan-ucapan, pesan-pesan, dan syair-syairnya terus dituturkan oleh lisan kaum muslimin di
negeri-negeri Afrika: Guinea dan Tanzania, atau Asia: Indonesia, Malaysia, Singapura, bahkan di Eropa, terlebih lagi di negerinegeri Arab. Hal itu terjadi berkat pengorbanannya dalam menyebarkan ilmu dan dakwah, dengan ucapan dan penanya yang lancar dalam karangan-karangannya yang dipandang telah mencakup ringkasan dari kitab orang-orang di masa lalu, seperti al-Ihya. Juga dengan mewujudkan teladan yang sempurna pada dirinya, wirid-wiridnya yang diberkahi, serta para ulama dan orang-orang saleh yang telah berhasil melalui didikannya, yangmereka itu menempuh metode gurunya.

* * *

Setelah al-Imam al-Haddad, maka dakwah yang sesuai dengan metodenya, kemudian diemban oleh para imam besar dan para da’i terkemuka dari murid-murid terbaik beliau, seperti
al-Imam al-Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi (wafat 1144 H), al-Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqîh (wafat 1162 H) yang digelari ‘Allamah ad-Dunya, dan al-Imam Muhammad bin
Zain bin Sumaith (wafat 1172 H). Anak-anak Habib Abdullah al-Haddad sendiri merupakan bukti didikan ayah mereka.
* * *

Periode al-Haddad dan murid-muridnya kemudian berlanjut kepada periode yang menonjol dalam penyebaran dakwah dan memiliki kelebihan dengan pengaruhnya yang besar di tengahtengah kaum muslimin, yaitu seorang imam dan wali besar, Habib Umar bin Saqqâf as-Saqqâf yang dijuluki Syaikh al-Aqthâb dan murid-muridnya, yaitu par imam, Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith (1257 H), Habib Abdullah bin Husain bin Thâhir (1272), pengarang al-Majmu’ ath-Thâhiri, dan saudaranya Habib Thâhir bin Husain bin Thâhir (wafat 1241 H), Habib Hasan
bin Shâlih al-Bahr al-Jufri (wafat 1273 H), dan Habib Abdullah bin Umar bin Yahya (wafat 1265 H). Murid paling terkenal dari tingkatan ini adalah al-Muhaddits al-‘Allamah (seorang ahli
hadits dan sangat alim) Habib Idrus bin Umar al-Habsyi (wafat 1314 H), pengarang kitab langka, ‘Iqd al-Yawâqât al-Jauhariyyah yang di dalamnya dihimpun sanad-sanad para Sadah Ba ‘Alawi.
Dengan demikian, beliau telah memberikan pengabdian yang sangat besar kepada kaumnya karena sedikitnya perhatian kepada hadits dan ‘ulûmul-hadits di daerah itu.

Tampaknya yang paling menonjol di antara para tokoh Ba ‘Alawi setelah periode ini adalah tiga orang imam. Pertama, Mufti Hadramaut al-Imam Abdurrahman bin Muhammad alMasyhur (wafat 1320 H), pengarang Bugyah al-Mustarsyidîn dan lain-lain. Kemudian tokoh mutaakhir yang langka, al-‘Allamah al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas (wafat 1334 H) yang memiliki popularitas yang tinggi di lingkungan ilmiah di luar Hadramaut, seperti Mesir, Syam, dan Hijaz. Dan yang ketiga, yang tersisa dari para salaf, beliau meninggikan panji kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw., al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (wafat 1333 H). Karya-karya yang ditinggalkannya dalam sastra dan tasawuf sangat besar. Semoga Allah meridhai mereka semua.
Kemudian tingkatan ini digantikan oleh beberapa tokoh, seperti Syaikh al-Islam al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syâthiri (1361 H), pendiri Rubath Tarim. Dan tokoh kebangkitan ilmiah di masanya, al-’Arifbillah al-Habib Alwi bin Abdullah bin Shihabuddin (wafat 1386 H), al-‘Allamah al-Habib Sâlim bin Hafîzh (wafat 1378 H). Serta seorang da’i besar dan pengembara yang dikenal, al-‘Allamah al-Habib Umar bin Ahmad bin Sumaith (wafat 1397 H) yang mengambil ilmu dari para tokoh pada periode ini dan periode sebelumnya. Murid-muridnya menjadi imam dan da’i terkemuka di masa kita sekarang, seperti Habib Abdul Qadir bin Ahmad
As-Saqqâf, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, Habib Abu Bakar Aththas al-Habsyi, Habib Muhammad bin Abdullah alHaddar, Habib Muhammad bin Sâlim bin Hafîzh, Habib Ibrahim bin Umar bin ‘Aqil bin Yahya, dan sebagainya.

Masing-masing tokoh di masa lalu memiliki peninggalan ilmiah dan sastra yang tak dapat disebutkan di sini. Sesungguhnya pembicaraan tentang para tokoh Thariqah ‘Alawiyah adalah
mencakup bidang yang sangat luas. Masing-masing memiliki peninggalan dan manaqib yang telah disusun dalam karangankarangan tersendiri. Setiap kali Anda tenggelam dalam lautan salah
satu dari mereka, maka hal itu akan membuat Anda lupa dengan yang lain.

Metode Keilmuan

Mazhab fiqih yang dianut oleh para Sadah Ba ‘Alawi adalah mazhab Imam Syafi’i yang ditakdirkan berkembang di Yaman sejak awal. Ahli sejarah, Syamsuddin as-Sakhawi mengatakan, “Yaman adalah suatu negeri yang luas, mencakup Tihamah dan Nejd serta memiliki kota-kota, kampung-kampung, lembah-lembah, dan pegununganpegunungan. Para ulama telah banyak di sini sejak masa sahabat, para imam banyak yang pergi ke negeri ini. Bahkan pada setiap masa, ilmu terus bertambah di negeri ini. Ketika mazhab Syafi’i muncul dan terkenal di sini, mereka pun menganutnya. Itu terjadi pada abad ketiga sebagaimana yang disebutkan oleh al-Janadi, kemudian menjadi banyak, terutama di negara-negara Ayubiyah dan sesudahnya sampai sekarang.”

Imam Ahmad al-Muhâjir memiliki peran yang menonjol dalam penyebaran mazhab Syafi’i di Hadramaut, sebelum menyebar ke seluruh Yaman pada masa itu. Dari Tarikh Bamakhramah,13 dapat dipahami bahwa penyebaran mazhab Syafi’i di Yaman adalah pada tahun 340 H dan sesudahnya, maka penyebarannya di Hadramaut melalui Imam al-Muhâjir adalah
sebelum itu.

Peranan para Sadah Ba ‘Alawi dan para ulama Hadramaut yang lain bukan hanya dalam bermazhab dengan mazhab Syafi’i, melainkan sangat berperan dalam menghidupkan dan menyebarkannya, juga dalam menulis dan mengarang kitab tentang mazhab ini secara
panjang lebar. Dimulai dengan al-Imam Abdullah bin Abdurrahman Ba ‘Ubaid (wafat 603 H), al-Faqih al-Muqaddam sendiri, Imam Muhammad bin Sa’id Bu Syukail (wafat setelah 700 H) sampai para fuqaha dari keluarga Bafadhal dan Bamakhramah. Juga al-‘Allamah Abdurrahman bin Mazru’, fuqaha dari keluarga Ba Qusyair dan keluarga as-Saqqaf, serta para imam berikut, Imam Sa’id Ba’syin, Imam Abdullah Basaudan, Imam Abdurrahman al-Masyhur, dan banyak lagi yang lain dari para mufti dan para pengarang. Terlebih lagi yang muncul dari ma’had-ma’had, rubath-rubath, dan madrasahmadrasah yang banyak.

 

Juga atas apa yang mereka sebarkan dalam mengikuti, mempelajari, dan mengajarkan mazhab ini di berbagai pelosok, seperti Asia Timur, Afrika, India, dan sebagainya. Hingga kini Hadramaut masih meluluskan para fuqaha yang cakap dalam mazhab ini. Bahkan, pada saat ini dipandang sebagai satu-satunya negeri yang masih mengajarkan mazhab ini sesuai prinsip-prinsip,
kekuatan, dan semangatnya.
* * *

 

Mazhab Tarekat Ba’alawi Sadah Ba’alawi

Adapun mazhab Sadah Ba ‘Alawi dalam aqidah adalah mazhab Sunni Asy‘ari. Dan itu terjadi setelah mapannya mazhab Ahlussunnah di Hadramaut, setelah lenyapnya kekuasaan
Ibadhiyah dari sana sebagaimana yang telah disebutkan.

Jadi keluarga Ba ‘Alawi, sejak awal pertumbuhan mereka, memegang mazhab Asy‘ari dalam aqidah dan mazhab Syafi’i dalam furu’. Itulah yang dianut oleh sandaran mereka, yaitu alImam Hujjatul-Islam Abu Hamid al-Ghazali. Al-Imam al-Haddad mengatakan dalam qashidah râiyah-nya (yang diakhiri dengan huruf ra) yang terkenal, Jadilah seorang Asy‘ari dalam aqidahmu
karena ia sumber yang bersih dari penyimpangan dan kekufuran Imam sandaran kita tlah menyusun aqidahnya dan itulah penyembuh dari bahaya Yang kumaksud dengannya adalah, yang selainnya tak digelari dengan Hujjatul Islam, betapa bangganya engkau Di antara anugerah keilmuan yang lain dalam metode Sadah Ba ’Alawi adalah mereka mengajarkan ilmu-ilmu keislaman dan terus melakukan itu sepanjang perjalanan sejarah mereka.

Ma`had-ma`had dan rubath-rubath mereka, sejak bertahuntahun yang lalu sampai sekarang, senantiasa memelihara metode dalam mengajarkan ilmu-ilmu yang disertai dengan metode
pendidikan (metode tarbawi) dalam penyucian diri. Kedua metode tersebut menghasilkan beberapa alumni setelah belajar beberapa tahun dan setelah sempurna kemampuan keilmuan
mereka.

 

Maka sempurnalah kemampuan ilmiah mereka dan menjadi kokohlah kepribadian keimanan mereka. Sehingga kemudian mereka dapat memberi manfaat dan melanjutkan perjalanan bersama generasi para pelajar berikutnya.

* * *

Di antara gambaran kecenderungan mereka kepada ilmu adalah perhatian mereka pada tulis-menulis dan mengarang dalam berbagai disiplin ilmu yang berbeda, seperti fiqih, hadits, tasawuf,
sirah, tarikh, biografi, dan sebagainya. Juga pencatatan yang dinamis terhadap pengetahuan dan ilmu dari ucapan para imam dan orang saleh dari kalangan mereka. Di hadapan kita sekarang,
terdapat banyak peninggalan dari karangan-karangan berharga dan manuskrip-manuskrip langka yang banyak, di antaranya masih terkunci dalam tempat penyimpanan.

Petunjuk-Petunjuk Rohani

Thariqah Sadah Ba ’Alawi sependapat dengan thariqah sufi yang lain dalam metode rohaninya yang umum. Hanya saja, ia memiliki keistimewaan dengan sifat salafiyahnya yang nyata. Yaitu mengikuti segala yang ditempuh para tokohnya di masa-masa awal, dan menekankan pada pengamalan ilmu yang merupakan tiang utamanya. Karena itu, perhatian mereka terhadap ilmu fiqih lebih besar dibanding ilmu-ilmu lainnya.

Mereka juga menyibukkan diri dengan adab dan akhlak alGhazali dan terdidik dengannya. Meskipun demikian, mereka mengutamakan khumul dan suka menyembunyikan diri.

Secara umum, thariqah ini adalah sebagaimana yang digambarkan oleh al-Imam al-Habib Thâhir bin Husain bin Thâhir Ba ’Alawi (wafat tahun 1241 H), dalam sebuah karya yang ditulisnya dalam mengenalkan thariqah ini sebagai berikut, “Mengokohkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yaitu para pendahulu umat yang saleh dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in, mengenal hukum-hukum wajib, mengikuti jejak langkah dalam segala hal ihwal Nabi Saw. sebagaimana telah diberitakan, dan berpegang pada adab syar’i, yaitu tata cara yang dianut oleh keluarga Ba ’Alawi, dari generasi ke generasi sampai kepada Nabi Saw.”

Dengan ungkapan yang lebih khusus, al-Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqîh, mengatakan, “Salah satu thariqah sufi yang dasarnya adalah Kitabullah dan sunnah Rasulullah, induknya adalah penyaksian bahwa segala anugerah berasal dari Allah (syuhûdul minnah), yaitu mengikuti nash dengan cara pandang khusus dan memurnikan pokok (ushûl) untuk mendekati pencapaian makrifat (wushûl). Secara lahiriah, thariqah ini adalah ilmu-ilmu agama dan amal perbuatan, secara batiniah adalah mewujudkan maqamat (kedudukan spiritual) dan ahwal (keadaan spiritual), dan secara adab adalah menjaga rahasia dan cemburu (ghirah) bila rahasia terbongkar.”

Di antara ucapan al-’Allamah al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya mengenai thariqah ini adalah, “Kesimpulannya, thariqah ini adalah membagi waktu dengan amal-amal saleh disertai
kesempurnaan dalam meneladani pemimpin dari para pemimpin (yakni Rasulullah), dan membenarkannya dengan kesucian dari kotoran dan penyakit, menyucikan hati dari semua akhlak yang rendah dan menghiasinya dengan semua akhlak yang luhur, mengasihi dan menyayangi hamba-hamba Allah, mencurahkan segala kemampuan dalam mengajari dan memberi petunjuk kepada mereka sesuatu yang mengandung keselamatan, bersikap wara’ (hati-hati) dari yang haram dan syubhat, membatasi diri dari yang mubah dan segala nafsu, dan memanfaatkan waktu dalam umur dengan ber-’uzlah (menyendiri dari makhluk). Maka mereka
tidak bergaul dengan manusia kecuali untuk belajar dan mengajar, menghadiri Jumat dan jemaah, mengunjungi kerabat, mengadakan pembahasan ilmu dalam setiap kunjungannya, menyambung  hubungan kekerabatan dan persaudaraan, melakukan perbuatan baik terhadap setiap orang, dan bermuamalah dengan baik.

Melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menolong orang yang kesulitan, dengan tetap menjaga diri, tawadhu’, dan selalu sadar atas penyaksian Khaliq, memenuhi janji, zuhud, dan tawakal
kepada Allah.”

Itulah beberapa petunjuk dan cakrawala rohani dari thariqah ini. Hal itu dijelaskan secara rinci dalam kitab al-Ihya, karya al-Imam al-Ghazali serta dalam ucapan para Sadah ’Alawiyin dan karangan mereka, khususnya al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad.

Meskipun terdapat thariqah-thariqah sufi yang lain di Yaman, seperti Syadziliyah dan Qadiriyah yang juga tersebar di sana selama beberapa masa dan dianut oleh sejumlah tokoh, Thariqah Ba ‘Alawi adalah yang dominan di wilayah itu dan tersebar luas di berbagai negeri. Hal itu karena thariqah ini memiliki petunjuk yang jelas, jauh dari metode pendidikan menggunakan istilah
dan rumus yang khusus. Sehingga mudah dicerna oleh awam dan sangat besar pengaruhnya pada mereka. Sebab, tingkatan pertama merupakan aktivitas keimanan yang kuat yang cocok untuk kalangan awam maupun kalangan khusus.

Sedangkan pada puncaknya merupakan perilaku dan ilmu-ilmu batin yang memiliki pengaruh pada kalangan khusus. Thariqah Ba ’Alawi merangkul thariqah-thariqah yang lain, beradab dengannya, dan tidak mengingkarinya, bahkan mengambil makna-maknanya. Sehingga, para imam muhaqqiq mereka menyatakan dengan jelas bahwa Thariqah Ba ’Alawi pada lahiriahnya mengikuti al-Ghazali dan batiniahnya mengikuti asySyadzili. Al-Imam Abdurrahman Bilfaqîh mengatakan, “Secara lahiriah seperti yang dijelaskan oleh al-Imam al-Ghazali berupa ilmu dan amal menurut cara yang bijak. Sedangkan secara batiniah sebagaimana yang diterangkan oleh Thariqah Syadziliah, yaitu tahqiq al-haqiqah wa tajrid at-tauhid.

 

Mujahadah mereka yang paling besar adalah bersungguh-sunguh dalam menyucikan hati, menyiapkan diri untuk menerima limpahan-limpahan kedekatan pada jalan petunjuk, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan setiap pendekatan dalam persahabatan dengan
orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Thariqah Sâdah Ba ’Alawi memiliki keistimewaan dengan menjauhkan diri dari penampilan yang berlebihan sebagaimana yang terdapat pada sebagian thariqah tasawuf. Karena inti Thariqah ’Alawiyah adalah mewujudkan makna suluk batin seperti ikhlas, tawakal, zuhud, perhatian terhadap akhirat, dan sebagainya, memegang adab yang diajarkan al-Ghazali, dan senantiasa menuntut ilmu dan mengamalkannya dalam kondisi-kondisi yang nyata dengan tidak membawanya kepada formalitas atau penampilan yang kosong dari makna. Para Sadah Ba ’Alawi telah menjelaskan metode thariqah ini dengan makna yang sesungguhnya sebagai jalan menuju akhirat dan jalan untuk menghidupkan makna-makna ketuhanan pada umat.

* * *

Di antara yang patut untuk ditunjukkan adalah bahwa pembicaraan kita tentang Thariqah Sâdah Ba ’Alawi dan penisbahannya, tidak berarti bahwa thariqah ini terbatas pada mereka dan khusus untuk keluarga mereka saja. Melainkan semua orang Hadramaut, bahkan orang-orang Yaman lainnya telah bergabung ke dalamnya, karena mereka telah menyaksikan dengan nyata kelebihan-kelebihannya, dan karena thariqah ini menjadikan ilmu dan dakwah ke jalan Allah sebagai metodenya. Banyak nama keluarga Hadramaut, yang bukan dari kalangan Ba ’Alawi, berada pada tingkat atas thariqah ini, seperti keluarga al-’Amûdi, Ba ’Abbâd, Ba Jammâl, Bâfadhal, Ba Dzîb, Bin ’Afif, dan banyak lagi yang lainnya. Mereka mengambil dari para Sâdah, dan para Sâdah mengambil dari mereka. Keseluruhan lembah yang luas ini telah penuh dengan Thariqah ‘Alawiyah.

Penduduknya telah membawa adabnya, menguatkan akhlak mereka dengannya, dan mendirikan bangunan dunia mereka berdasarkan pengajaran ketuhanan ini.

Thariqah Sâdah Ba ’Alawi dan Dakwah di Jalan Allah Thariqah ’Alawiyah—di samping sebagai metode dalam tarbiyah (pengajaran) dan suluk—juga merupakan penyebab tersebarnya Islam dan masuknya orang-orang ke dalam Islam secara berbondong-bondong pada wilayah geografis yang luas. Melalui India menuju Malaysia, Burma, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, begitu pula Asia Tenggara, Pantai Timur Afrika, dan sebagainya. Para Sâdah ’Alawiyin, dalam perdagangan mereka, melintasi laut menuju negeri-negeri itu merupakan teladan yang sempurna dari seorang muslim yang saleh, alim, dan mengamalkan ilmunya.

Mereka dapat menarik hati manusia dengan akhlak dan ilmunya. Sehingga mereka merupakan gambaran nyata dari kepribadian seorang muslim yang sempurna dalam hal agama dan dunia.
Ahli sejarah al-’Allamah Sayyid Muhammad bin Abdurrahman bin Syihab mengatakan, “Orang-orang Arab Hadramaut, terutama para Sâdah ’Alawiyin, sering pulang-pergi ke Malibar, Gujarat,
Kalkuta, dan negeri-negeri India lain. Di sana mereka memiliki pusat-pusat perdagangan dan keagamaan. Banyak kaum ’Alawiyin,  yang memiliki rubath-rubath yang terbuka bagi para penuntut ilmu. Kapal-kapal mereka pergi dari pantai Hadramaut menuju Malibar, kemudian bergerak ke sebelah timur di pantai India, dan dari sana menuju Sumatera, Aceh, Palembang, lalu ke Jawa. Di dalam kitab al-Masyra`22 disebutkan riwayat hidup sebagian Sâdah ’Alawiyin yang telah masuk ke Jawa jauh sebelum orang-orang Belanda ke negeri ini dan ke Aceh sejak tiga setengah abad lalu.”

Mengenai masuknya orang-orang Hadramaut dari kalangan Sâdah ’Alawiyin dan lainnya ke Jawa, yang merupakan negeri terbesar yang tampak pengaruhnya, Amir Syakib Arsalan dalam
makalahnya berjudul Islam di Jawa dan Sekitarnya mengatakan,

“Telah dimaklumi bahwa orang-orang Hadramaut adalah penduduk dunia yang paling berani melakukan perjalanan. Kemiskinan negeri mereka dan keinginan yang keras telah membawa mereka mengarungi alam ini. Sebagian besar tersebar di Pulau Jawa.

Pemerintah Belanda sangat memperhitungkan mereka dan mempersulit perpindahan mereka ke negeri itu, karena khawatir akan menyebarkan dakwah Islam atau khawatir mereka mengingatkan para penduduknya yang lugu tentang hal-hal yang hanya dapat diingatkan oleh orang-orang Hadramaut. Maka Pemerintah Belanda menghalangi kedatangan mereka di negeri
itu, dan mengawasi gerak-gerik mereka dengan alasan bahwa kebanyakan orang Hadramaut adalah para tunawisma yang datang ke Jawa tanpa membawa modal apa-apa. Selain itu, Pemerintah Belanda mencegah orang-orang non-Muslim memasuki Hadramaut. Maka mereka pun (yakni orang-orang Hadramaut) tidak berhak menuntut masuk ke negeri jajahan Belanda, karena Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan sekitarnya, adalah milik Belanda dan mereka lebih berhak daripada penduduknya!” Amir Syakib melanjutkan, “Karena itulah, orang-orang
Hadramaut dan orang-orang Arab lainnya dipersulit dalam masalah imigrasi ke daerah-daerah jajahan Belanda, sebagaimana yang mereka katakan. Namun tetap saja banyak orang Hadramaut
yang dapat memasuki dan mendiami daerah-daerah itu dan
menjadi penduduknya.

Akibatnya, pemerintah Belanda yang sejak awal tidak suka dengan keberadaan orang-orang
Hadramaut di tengah-tengah kaum Muslimin pribumi, karena khawatir kearifan mereka dapat menghilangkan keluguan kaum pribumi dan akan menyadarkan dari kelalaian yang merupakan
makanan empuk bagi penjajah—mempersulit orang-orang Hadramaut setiap saat, selalu menyusahkan kehidupan mereka, dan melakukan apa saja agar mereka meninggalkan negeri itu.”
* * *

Itulah gambaran kesulitan dan penderitaan yang banyak dihadapi para Sâdah Ba ‘Alawi dalam perjalanan mereka. Dengan tidak bermaksud menyebutkan rincian kejadiankejadian itu, kami ingin menjelaskan perjalanan itu secara global dengan mengatakan, “Para Sâdah ‘Alawiyin terus melakukan perjalanan-perjalanan mereka dan menetap di tempat-tempat itu.

Peninggalan-peninggalan mereka tersebar, adab-adab mereka mendominasi, dan peradaban mereka tertanam kuat sehingga mereka memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan rakyatnya.”

Pengaruhnya di negeri-negeri itu tidak hanya pada para penduduknya, melainkan sampai pada dasar negeri dan para raja dan keluarganya. Semuanya mengikuti mazhab dan thariqah mereka.
Mereka merupakan tokoh-tokoh agama dan negara. Ahli sejarah Sayyid Muhammad bin Shahab mengatakan, “Di Aceh terdapat kuburan yang mencakup banyak Sâdah ’Alawiyin. Sebagian di antara mereka memegang kesultanan-kesultanan di negeri ini.

Hal ini dikenal di kalangan penduduk setempat… Di India berdiri kerajaankerajaan yang di antara pendirinya adalah kalangan Sâdah ’Alawiyin, misalnya Kerajaan Raja Ambar. Di antara faktor-faktor yang sangat penting dalam pendirian kerajaan adalah petunjuk dari Habib Ali bin
Alwi bin Muhammad al-Haddad… Dan Raja Jauhar Saharti tidak lain adalah murid Syaikh bin Abdullah al-’Aydarus. Karena itu, ketika raja wafat, para Sadah memberi perhatian dan menyelenggarakan upacara pemakamannya.

Raja tersebut memiliki wawasan yang luas. Mereka memakamkannya di pemakaman para Sâdah dan orang-orang Arab di bawah kota Bijapur.”

“Di Timur Jauh, Afrika Timur, Hijaz, dan lain-lain, mereka mendirikan kerajaan-kerajaan yang terkenal yang masih terdapat peninggalannya sampai sekarang. Seperti kerajaan keluarga
al-‘Aydarus di Surrat, kerajaan keluarga al-Qadri dan keluarga Syaikh Abu Bakar bin Sâlim di Kepulauan Komoro, kerajaan keluarga Bin Syihab di Siak, Kesultanan keluarga al-Qadri di Pontianak, keluarga Bafaqîh di Filipina, masing-masing dari kerajaan ini memiliki sejarah yang rinci.”

Ahli sejarah yang lain mengatakan, “Sultan Kepulauan Madagaskar ketika itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan orang-orang Arab Zanjibar dan Afrika Timur, begitu juga sultan-sultan Kepulauan Komoro. Mereka adalah dari keluarga ‘Alawiyyin Husainiyin dari keluarga Jamâlullail, keluarga Syaikh, keluarga al-Qadri, dan lain-lain.27 Ahli sejarah Sayyid Ibnu Syihab mengatakan, “Pembahasan ini tidak akan memuat panjang lebar dan menjelaskan satu per satu berkenaan dengan para tokoh mereka yang masuk ke India.

Sedangkan tentang para tokoh terkemuka Sadah ‘Alawiyin lain nya, yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Malaka, dan Kepulauan Timor, dapat dibahas secara panjang lebar, dan pada
umumnya nasab-nasab mereka masih terpelihara.

Adapun di benua Afrika, para Sadah Ba ‘Alawi hingga kini memiliki pengaruh besar yang tak dapat dibicarakan dalam lembaran-lembaran yang singkat ini.

Sebagai tambahan penjelasan, para Sadah ‘Alawiyin di negeri mereka dan berbagai daerah sekitarnya, telah tersebar dan memiliki pengaruh yang besar melalui dakwah dan perdagangan.

Mereka juga turut berpartisipasi dalam kegiatan politik di berbagai daerah. Namun mereka memiliki ciri yang paling dominan, yaitu pengabdian dengan ilmu dan dakwah di kebanyakan daerah dan wilayah.
* * *

Kaum ’Alawiyin dalam perjalanannya telah menghadapi berbagai bahaya, tetapi kerasnya keinginan mereka di negerinya dan negerinegeri lain telah membuahkan kebangkitan agama dan keilmuan.

Dalam dakwah dan perjuangan, mereka memiliki lembaran-lembaran yang abadi sepanjang masa yang peninggalan, masih bersinar hingga sekarang.

 

Rahasia dari semua itu adalah bahwa setiap kali mereka menginjakkan kaki di suatu negeri mereka memiliki kedudukan dan dihormati karena kedudukan pendahulu mereka yang suci.
Juga disebabkan oleh banyaknya ulama di kalangan mereka yang menguasai ilmu-ilmu agama, sehingga di mana saja mereka berada, mereka dapat memberi manfaat. Selain itu, adalah karena kelebihan mereka dalam berdakwah menyeru ke jalan Allah dan kepada agamanya, serta akhlak mereka yang santun dan adab tasawuf yang dominan.

 

Mereka adalah orang-orang yang paling lembut dalam akhlak dan paling tinggi dalam pendidikan.

Dewasa ini, peninggalan-peninggalan yang abadi itu masih tetap bersinar. Tarim, misalnya, tetap memancarkan sinarnya dengan orang-orang saleh dan para penuntut ilmu yang tekun
untuk mendapatkan ilmu di daerah ini. Juga para da’i yang mengembara ke berbagai wilayah Asia, Afrika, dan dunia barat.

Mereka menyeru ke jalan Allah mengikuti jalan para pendahulu mereka yang suci. Mereka adalah murid-murid al-Haddad, alHaddar, Ibn Ahmad as-Saqqâf, dan sebagainya. Dan seperti itulah
rubath-rubath dan ma’had-ma’had ‘Alawiyin yang menghiasi bumi dan memancarkan cahaya.

Para tokohnya dewasa ini seperti Habib Zain bin Sumaith di Hijaz, para sadah keluarga
asy-Syâthiri di bumi al-Faqîh al-Muqaddam, keturunan bin Hafîzh yang banyak berbuat kebajikan, keturunan al-Masyhur dan al-Haddar, dan para sâdah yang lainnya− hingga sekarang
masih tetap merupakan contoh dan teladan dari dakwah orangorang tua mereka.

Tetapi beban sekarang menjadi berat dan kesulitan bertambah besar. Karena itu, kita mesti meningkatkan pengorbanan dan pemberian atas usaha yang dilakukan.

Wahai para keturunan ’Alawiyin, apakah kalian akan kembali kepada sumber-sumber para salaf? …maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.

(QS. al-Mâidah [5]: 54)

Semoga Allah mengembalikan kita ke dalam ajaran agamanya dengan pengembalian yang indah dan diberkahi. Dan itu bukanlah hal sulit bagi Allah. Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan sekalian alam.

Jangan Lupa Share klik
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *