Lirik Lagu “Siti Aisyah Istri Rasulullah” Menuai Kontroversi? Inilah Tanggapan Buya Yahya

  • Whatsapp

Lirik Lagu “Siti Aisyah Istri Rasulullah” Menuai Kontroversi? Inilah Tanggapan Buya Yahya

Fakta di balik lagu Siti Aisyah Istri Rasulullah saw,

aisyah istri rasulullah lirik lagu menuai kontroversi, buya yahya meminta mengganti lirik

Pertanyaan : Assalamualaikum wr wb, Buya perkenalkan, saya abdul dari Balikpapan, ingin bertanya buya, sebenarnya boleh ga sih kita, kalau nyeritain kehidupan Nabi Muhammad saw, dengan istri istri beliau, dan digambarkan lewat lagu lagu, soalnya ada lagu, yang judulnya “Aisyah Istri Rasulullah” itu isinya menceritakan keromantisan Nabi, tapi di sisi lain, waktu nyebut Nama Sayyidah Aisyah, Aisyah Saja tidak pakai kata “Sayyidah” dan lagu itu banyak disukai anak remaja, jadi banyak yg nyanyiin trus diperagakan, diilustrasikan seperti gambaran dalam syair itu, itu bagaimana buya hukumnya ?, karena lagu ini banyak dinyanyikan oleh Masyarakat, bahkan di liriknya juga menggambarkan ciri ciri fisik Sayyidah Aisyah,

(Buya Yahya memulai dengan Bismillah)

Read More

Jawaban : Manusia, Semua dari kita itu bisa melakukan kesalahan, qoidahnya, kemudian diantara orang bersalah terbagi menjadi dua, (pertama) yang melakukan kesalahan dengan kesombongannya, ga bisa dia dinasehati, urusannya dengan iblis dia. Yang Kedua adalah orang melakukan kesalahan ada dua lagi macamnya, terbagi dua, melakukan kesalahan, dia tidak dengan sengaja, atau dengan sengaja, kalau melakukan kesalahan dengan sengaja yang perlu dibenahi adalah kesadarannya, yang perlu dibenahi adalah hatinya, kenapa dia melakukan kesalahan dengan sengaja, ada melakukan kesalahan tidak sengaja, lah ini yang banyak dari kita, kalau melakukan kesalahan dengan sengaja, ya taubat sadar, yaa selesai, diingetkan,

 selagi tidak dengan kesombongan mudah diingetkan,

tapi ada orang melakukan kesalahan dengan tidak sengaja, ini yang banyak, nahh ini mungkin yang akan kita kembangkan melakukan kesalahan tidak sengaja ini khusnudzon kita, kepada Hamba Allah dimanapun mereka berada.

Orang yang membuat lagu itu, kita itu begini, kadang kita itu pengennya orang itu ga salah, lah itu salah, jadi kalau lihat kesalahan orang itu langsung dihabisi ………., lah memang kita ini selama ini berbaur dengan siapa, dengan manusia bukan dengan malaikat koq, kita ini kadang masuk kutub ekstrim, semua orang kalau salah langsung dihabisi ……, wah dianggap tidak punya kebaikan sama sekali, ini juga salah, ekstrim yang lain lagi adalah, sudah salah dibela, ini juga ga bener, dua kutub yang salah ini, melihat orang salah, ga memilah milah, “ga bisa pokoknya salah begini” langsung dihabisn, kadang di media, di medsos, loh koq merendahkan orang, memang selama ini kita dengan siapa ? dengan manusia bisa salah, kita pun yang ngomong bisa salah koq, sisi lain sudah salah dibela, ini semuanya ga bener dua model manusia ini, maka ayo menjadi orang adil di sini, jika ada orang yang bersalah itu adalah kalau memang atas dasar ketidak sengajaan kita kembalikan kepada Allah semoga dia mendapatkan kebaikan dalam niatnya, jangan langsung dihabisi ….., mungkin niatnya baik, kita tidak tahu itu

Nah berkenaan dengan kisah lagu tentang siti aisyah itu, ini kita masih khusnudzon, semoga yang membuat lagu itu niat baik, memang disana ada provokasi ada hamba hamba yang mencoba merendahkan sayyidah Aisyah yang tidak pernah rendah karena dimuliakan oleh Allah, ada sekelompok orang semacam itu lalu muncul lagu lagu tentang siti Aisyah, satu sisi mungkin niatnya baik kita kembalikan pada niatnya, insya Allah dan ini Khusnudzon, yang menyusun syair tentang siti Aisyah itu sampai dilagukan itu insya Allah tidak kenal, insya Allah niatnya baik untuk mengangkat siti Aisyah agar orang mentauladani siti Aisyah, dari sisi ini sesuai dengan niatnya adalah baik, akan tetapi kita semua manusia, kadang kita melakukang kebaikan kadang dibarengi dengan kesalahan, tinggal kita tegur kesalahannya saja, beres !, siapa yang tidak pernah bersalah ?, siapa yang sempurna dalam melakukan, kita melakukan sholat kadang ada salah, takbirnya kurang begini ada, kita melakukan zakat ada kurangnya, ada kekurangan itu wajar, hanya yang penting itu kita sadar, kalau ada yang kurang yuk kita benahi,

Maka berkenaan dengan kisah syair siti Aisyah, yang disenandungkan itu kalau benar syair yang itu yang dilagukan itu maka kita husnudzon semoga yang membuat syair itu mendapatkan pahala besar dari Allah karena niatnya baik dia.

Adapun ada kekurangan dalam syairnya, itu adalah sifat manusiawi, kemanusiaan, manusiawi, ada kekurangannya tinggal yuk kita sempurnakan, tidak perlu kita menghujat  menghujat orang semacam ini, ga ada, wong dia niatnya baik, menghadirkan kisah siti Aisyah yang baik, hanya kalau ada kekurangan, mari ayo kita benahi bersama, semoga yang membuat atau yang menyenandungkan, mendengar suara ini lalu mencoba mengubah liriknya, baik jadi seperti itu, jangan langsung kita habisi, seolah olah tidak punya kebaikan sama sekali, ini ada hal hal yang baik, orang menjadi mengenal siti Aisyah, rindu untuk kenal siti Aisyah dan sebagainya, mungkin ini dari sisi kebaikannya, Cuma kalau ada kesalahannya, ayo kita benahi bersama.

Pokoknya gini deh, kalau orang merasa benar ga ada salahnya itu sudah salah, atau menganggap orang harus benar trus ini juga salah,

Kalau ada kesalahannya bagaimana ?, nah ini berkenaan tentang syair syair (lagu) siti Aisyah itu kita akan kembali kepada kaedah, bagaimana ?, ini pertanyaan besar, apakah diperkenankan kita mesifati istri istri baginda Nabi dengan sifat sifat jasadiyah, jasadnya, ulama meberikan rambu rambu disini, Sayyidah Aisyah, Sayyidah Khodijah Kubro dan lain lainnya adalah

أمهات المؤمنين

Ibunda ibunda kaum mukmin

Kami yakin anda rindu syafaat rasulullah saw, kami yakin anda semua orang yang ingin mulia bersama Rasulullah saw, dan termasuk yang membuat syair itu, insya Allah tidak terlintas di hatinya, untuk merendahkan istri rasulullah, cuman kalau ternyata ada syair yang perlu dibenahi ayo kita benahi bersama, mungkin ada ahli yang pakar membuat syair, dirubah syairnya, ini kaedah di dalam membicarakan jasad / fidik istri Nabi, kalau jasad / fisik secara umum adalah sah, misalnya apa tidak mengarah kepada sifat sifat spesial, karena itu adalah ibu kita (ibunda kaum mukminin) kita dengan ibu sendiri, adek sendiri, kakak sendiri, anda laki laki, normal sehat pikiran sehat hati, ga mungkin bisa membayangkan, bisa menceritakan tentang sifat sifat fisik detail tentang adik perempuannya atau ibundanya, mohon maaf, tentang “bibir” tentang “ini ini” ga bisa, ga bisa, khusus mahromnya itu ga bisa, kecuali karena hatinya rusak karena nonton yang engga engga, sampai naudzu billah, sampai ada orang melakukan kehinaan dengan saudaranya sendiri, ini berbeda.

Tapi normal, sehat punya kemuliaan tidak bisa, menceritakan tentang detail fisik ibundanya, bagaimana !?!,  yang bakal didengar oleh orang, sementara kan wanita dijaga dan ditutup, menyebut tentang fisik yang sangat pribadi kepada orang lain, dan orang itu laki laki bisa saja membayangkan…, ibundamu ?!, ga bisa, ga punya adab, makanya para ulama mengatakan, kalau membicarakan mensifati jasad / fisik istri Nabi, Jangan !, tidak boleh dilakukang, itu ibunda kita,

أمهات المؤمنين

Ibunda ibunda kaum mukmin

Jadi jangan sampai kita mensifati sifat sifat jasad / fisik yang semua orang akan membayangkan tentang, oh egga, bahkan segala sesuatu yang ada hubungannya tentang jasad / fisik mari kita tepis itu ibunda kita, ibunda kita itu, Sayyidah Aisyah, bahkan wanita wanita mulia seperti Fatmah Azzahro kita tepis kita buang (untuk membayangkan fisiknya), kalau ada pikiran tentang membayangkan, ada pun penyebutan Nabi tentang Khumairo, ada banyak hadist tentang khumairo, ada riwayat palsu juga,ada juga hadist yang menerangkan khumairo , ada orang habasyah,  kemudian nabi berucap

أ تريدين أن تنظري يا حميراء

“Apakah kamu ingin melihat yaa humairo”

Nah, tapi nabi menyebut humairo ?, humairo itu dalam bahasa arab itu apa ?, dimaknai adalah kalau untuk menyebut orang, orang itu kan ada, kalau bahasa kita itu ada sawo mateng, kutilnya sawo mateng, kuning langsat, ada macem macem,

Jadi sifat umum, bukan mensifati tentang bibirnya, warnanya merah, pipinya merah, ga bukan itu, humaira / humairo itu adalah menyebut orang yang kulitnya bukan hitam, tidak disebut putih, sebab dalam bahasa arab itu putih ada kesan belang, jadi tidak disebut putih, jadi humaro itu adalah bahasa nabi, itu adalah bahasa Nabi untuk siti aisyah, dan kita tidak perlu mengembangkan makna ini menjadi kemerah merahan ini itu dll, hati hati !, jangan itu !.

Ini nasehat jika ingin mendengar silahkan dengar.

Buya Yahya pun kemudian Mengomentari lirik lirik Lagu Aisyah Istri RasulullahLirik Lagu dan Video “Siti Aisyah Istri Rasulullah” Menuai Kontroversi? Inilah Tanggapan Buya Yahya

Jangan Lupa Share klik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.