Puthutea

  • Whatsapp

Saya Kembali diselinapi rasa, semacam melankolia

Kemarin sore, saya melihat Kali ngebut naik sepeda mutar-mutar di perumahan. Saya hampir berpesan, “Kali, hati-hati!” Tapi mendadak tidak jadi. Karena perhatian saya mendadak terbetot ke hal lain: betapa bocah itu tumbuh cepat sekali. Waktu bergerak cepat. Sangat cepat.


Malamnya, seusai Kali belajar, kami bermain catur. Berdua saja. Di kamar. Sambil mengajarinya trik-trik sederhana, saya memperhatikan bagaimana Kali bicara. Akal budinya terlihat makin berkembang. .

Pada beberapa hal, perasaan manusia pada anak, seperti sebuah ironi… Setidaknya pada diri saya. Saya menikmati fase bocah Kali, dan tidak ingin dia cepat tumbuh besar, tapi saya tahu kalau itu tidak adil dan melawan hukum alam. Saya ingat, dulu pun ketika saya kecil, saya ingin cepat tumbuh besar. Biar bisa melakukan apa yang belum boleh dilakukan oleh anak kecil.


Ketika remaja, semua indah. Serba menyenangkan. Lalu saat dewasa, barulah sesekali kangen pada masa kecil. Kadang muncul keinginan kembali ke masa kecil. Semacam melankolia.


Semalam, ketika Kali terdesak, dia tidak merajuk. Dia menatap papan catur dengan lebih tangguh. Tapi dari situ, saya tahu, mentalnya telah tumbuh. Dan mungkin rasanya sebentar kemudian, dia tak kanak-kanak lagi. Saya kembali diselinapi rasa, semacam melankolia.


Mungkin, saya harus sering merenungi dan berdamai dengan waktu 🙏


#bismakalijaga

yuk kita belajar dari rangkaian kata indah puthutea,

cara belajarnya sederhana, yuk kita ambil kalimat dan kata yang paling indah, nyaman didengar dan nikmat direnungkan

  1. Akal budinya terlihat makin berkembang : terkesan bahasa klasik namun indah, karena akal harus seiring dengan budi, dan keduanya harus sinergi berkembang bersama.
  2. saya harus sering merenungi dan berdamai dengan waktu : biasanya kata berdamai sering kita dengar beriringan dengan masalah, dan puthutea mengungkapkan berdama dengan waktu, karena sejatinya puthutea seakan tidak ingin sesegera mungkin anaknya tumbuh besar, namun ia pun flashback dengan masa lalunya yang berkeinginan gigih untuk menjadi lebih besar, ia pun harus berdamai dengan waktu, kata berdamai selalu menjadi peredam beragam masalah, dalam beragam film selalu terngiang kata berdamai, berdamai dari ragam masalah.
  3. saya tahu kalau itu tidak adil dan melawan hukum alam : sebuah unek unek hati yang berlawanan dengan realita, sering kali hati kita begumam hal hal mustahil, hanya gumaman sekilas tanpa perlu dibahas detail, namun kalimat ini adalah kejujuran dari lubuk hati.
  4. semacam melankolia : terulang kali kata ini, menunjukkan ada hal yang sangat serius dengan kata ini, atau memang kata ini sering terulang dan terngiang di hati puthutea, coba kita renungkan kata apa yang sering terulang di hati kita dan tulisan kita ?, hehehehei

saya sejatinya suka menulis, dan ingin rasanya belajar banyak tentang dunia tulis menulis, namun beginilah cara saya belajar, belajar dari sosok puthutea, membaca tulisannya, seakan mengalir tidak ingin berhenti, selalu terkagum kagum, saya tidak mengenal beliau, namun dari membaca tulisan beliau setidaknya saya seakan belajar banyak dari beliau

Jangan Lupa Share klik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.