Cerita Kisah Para Salaf Sholeh tentang Ridho kepada Allah

  • Whatsapp

Kisah-kisah para sholihin didalam menerima dan ridho dengan ketentuan Allah
Tidak lengkap rasanya jika didalam setiap bab tidak diiringkan kisah-kisah salafunassholih terkait dengan hal tersebut.

Dalam bab ini didalam sifat menerima mereka terhadap ketentuan Allah dan ridho kepadanya.

Yang dengan membacanya memotivasi kita untuk meniru jejak mereka sehingga kita termasuk yang beruntung di dunia.

Karena itulah maksud kita hidup di dunia, yaitu mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dan menghindari dari segala dosa sejauh-jauhnya. Adapun kisah-kisah tersebut adalah sebagai beriikut:

 

Cerita Kisah Para Salaf Sholeh tentang Ridho kepada Allah

1. Diriwayatkan bahwasanya nabi Yunus pernah berkata kepada Jibril, “wahai jibril tunjukkankepadaku seorang hamba yang paling beribadah keapda Allah. Maka kemudian dia ditunjukkan kepada orang yang terpotong tangan dan kakinya karena penyakit kust dan telah buta matanya, akan tetapi dia masih saja mendengarnya berkata,

“Ya Allah…segala puji bagimu. Engka telah memberikan kesenangan kepadaku melalui keduanya.

Engkau telah mengambilnya dariku dnegan kehendakmu. Itupun engkau telah memberikan dan menyisakan kepadaku suatu angan-angan wahai dzat yang maha baik dan selalu menyambung dnegan rahmatnya.

2. Suatu waktu sayyidina Isa melewatis eseorang yang buta matanya, mengidap penyakit lepra di badannya dan dia tidak dapat berjalan karena lumpuh, sedangkan daging-dagingnya berserakan dan berjatuhan karena dia juga mengidap penyakit kusta.

Itupun dia selalu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku keselamatan dan kesehatan dariapda apa yang telah diberikannya kepada banya makhluknya.”

Maka sayyidina Isa bertanya kepadanya, “Wahai gerangan.. aku tidak melihat suatu bala’ kecuali ada pada dirimu. Lalu bala’ apakah yang tidak ada pada dirimu yang engkau katakan pada do’amu itu?” maka dia berkata, “Wahai ruhullah… masih lebih baik daripada mereka-mereka yang di dalam hatinya tidak ditanamkan dalam hatinya pengetahuannya.

” Maka Nabi Isa berkata, “Benar engkau! Ulurkan tanganmu.” Kemudian didoakan oelh Nabi Isa sehingga jadilah ia orang yang paling tampan wajahnya dan paling baikbentuknya dan Allah hilangkan segala musibah terkait dengan dirinya.

3. Diriwayatkan sahabat Abdullah bin Umar telah meninggal salah satu putranya,dan sebelum dia meninggal ketika mengidap suatupenyakit dia merasa kesakitan karenanya. Maka tampak sangat sedih di wajah sayyidina Abdullah bin Umar dengan kesedihan sehingga mereka teman-teman sahabat Abdullah bin Umar menyangka bahwasanya h=jika dia meninggal dunia maka entah apa yang terjadi.

Kepada sahabat Abdullah bin Umar dari saking sedihnya dia. Tatkala benar-benar meninggal dunia, maka sahabat Abdullah bin Umar mengantar jenazahnya. Pada saat itu tampak di raut mukanya tidak ada yang lebih bahagia darinya dan memakai pakaian yang rapi, memakai minyak wangi, dan lain sebagainya. Sehingga ditanyakan kepadanya, “Kenapa engkau melakukan yang semacam ini? Sedangkan engkau sangt sedih ketika anakmu meninggal dunia?” maka sahabat Abdullah bin Umar berkata,

“Aku tampakkan rasa kesedihanku karena aku mengasihaninya akan tetapi tatkala sudah datang ketentuan Allah , maka aku ridho akan ketentuannya dengan selapang-lapangnya.”

4. Berkata Tsabit Al-Bannani: telah meninggal Abdullah bin Muthorrif bin Syahir. Maka keluarlah yang tidak lain adalahputranya sendiri. Mak keluarlah mutrif kepada kaumnya dalam keadaan memakai pakaian yang sangat bagus dan sangat indah dnegan memakai parfum. Maka mereka tidak suka dengan apa yang mereka lihat. Mak mereka berkata, “Anakmu meninggal tapi kamu memakai baju yang semacam ini bahkan kamu memakai minyak wangi?” maka dijawab oleh Mutrif, “Apakah kedaanku tidak patut padahal Allah telah menjanjikan kepadaku dengan musibahku ini 3 hal, yang semua dari 3 perkara tersebut lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya. Lalu beliau membaca ayat:

(Q.S. )

5. Berkata sayyidina Umar bin Abdul Aziz ketika meninggal anaknya. Kemudian dikumpulkannya. Disaat itulah dia berdiri di depankuburan anak-anaknya dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu wahai anakmu. Dahulu ketika kamu hidup kamu sangat berbakti kepada ayahmu ini. Dan sampai sekarang, demi Allah mulai Allah memberikanmu kepadaku sangat senang kepadamu dan bahagia denganmu.

Akan tetapi demi Allah aku sangat merasa senang dan tidak lebih berharap bagianku kepada Allah melebihi ketika engkau meninggal dunia dari mulai engkau lahir sampai sekarang, inilah sesuatu yang engkau berikan kepadaku yang sangat membahagiakanku.

6. Adalah seorang tabi’i yang bernama Urwah bin Zubair anak dari Zubair bin Awwam dan Sayyidatuna Asma’ bintu Abu Bakr As-Shiddiq beliau telah bersiap-siap untuk melaksanakn bepergian dari madinah menuju damaskus. Dan bersamanya dalam bepergian tersebut putranya. Dan adalah putranya tersebut yang paling dicintainya diantara putranya.

Lalu berangkatlah dia ke Syam, di tengah perjalanan dia mendapatkan luka di kakinya sehingga terus tambah hari tambah parah. Dan tatkala masuk ke damaskus dalam keadaan digotong dan dibawa dan tidak dapat berjalan di atas kakinya.

Maka terkejutlah kholifah ketika melihat keadaannya ketika datang ke damasks dan memerintahkan dokter untuk mengobatinya.

Maka berkumpullah para dokter dan mereka memutuskan bahwasanya dia terkena penyakit luka karena sebab penyakit gula. Dan karena semakin parah, maka diputuskan oleh para dokter untuk mengamputasinya. Tapi raja tidak sennag dnegan keputusan mereka dan dia berkata,

“Bagaimana temanku ini seorang tabi’i seorang sholih dia datang dari rumahnya dalam keadaan sehat wal afiat dan dia datang ke rumahku dalam keadaan terpotong kakinya sehingga aku mengembalikan kepada keluarganya dalam keadaan pincang berjalan dengan satu kaki.

Akan tetapi dokter memastikan bahwasanya yang dmikian harus dilakukan, kalau tidak maka akan membahayakan nyawanya. Maka terpaksa kholifah Walid erkata kepada Urwah dengan keputusan para dokter, “Maka apa yang dikatakannya sungguh menakjubkan.

Beliau hanya menjawab perkataannya dnegan, “ ya Allah bagimu segala puji.” Maka diputuskan hari dilaksanakan amputasi tersebut, “kemudian para dokter kepadanya.

Kamu harus meminum obat bius agar tidak merasakan sakit ketika kami memotong kakimu, dimana obat bius dahulu terdiri daripada kandungan khomr didalamnya dan alkohol. Maka beliau berkata,

“Tidak… bagaimana aku meminumnya padahal Allah telah mengharamkannya.” “Lalu bagaimana lagi? Apa yang harus kami lakukan supaya kamu tidak merasakan rasa sakit yang sangat dengan amputasi tersebut? Maka dia berkata kepada mereka, “Biarkan aku melaksanakan sholat. Ketika aku sudah melaksanakan sholat, ketika aku sudah takbir maka silahkan kalian lakukan apa yang hendak kalian lakukan. Maka kemudian beliau melaksanakan sholat dan membiarkan kakinya terselonjor.

Lalu kemudian dilaksanakanlah amputasi tersebut dari mulai memotong dagingnya sampai tulangnya dengan gergaji yang tentunya sangat menyakitkan.

Tapi semua itu sama sekali tidak membuatnya mengeluh dan bergerak karena kesakitan. Lalu darah mengucur darah yang sangat banyak karenanya. Kemudian diambillah minyak yang sangat panas untuk membakar dan menutup pori-pori supaya darah tidak mengucur.

Sehingga sayyidina Urwah pingsan karenanya. Dan pada saat itu juga putra urwah bin zubair yang dibawanya menuju ke damaskus telah meninggal dunia karena diinjak kuda milik raja sehingga bertambah susah dan sedih kholifah walid karena kejadian yang sangat beruntun ini dan sangat menyesakkan dada ini,

sehingga dia menjadi bingung bagaimana cara menyampaian kabar yang tidak enak ini kepadanya.

Ditambah lagi kakinya tidak ada lagi. Maka tatkala dia sudah siuman, barulah datang kholifah kepadanya dan dia berkata kepada Urwah,

“Semoga Allah membalas dengan kebaikan kesabaranmu karena telah hilang kakimu.” Maka urwah menjawab, “hanya bagi Allah aku bersykur dan kami semua adalah miliknya dan kami semua akan kembali kepadanya. Setelah itu kholifah berkata, “Dan semoga Allah memberikan kesabaran kepadamu karena anak yang engkau cintai sudah tiada.” Dnegan spontan sayyidina Urwah berkata,

“Ya Allah… hanya bagimu segala puji dan kami semua adalah milikmu dan akan kembali kepadanya. Engkau telah memberiku 7 anak dan sekarang engkau ambil satu dari mereka. Engkau telah memberikanku 4 anggota badan, 2 kaki dan 2 tangan dan sekarang engkau ambil satu.

Ya Allah… kumpulkanlah aku dnegan anaku dan kakiku itu kelak di syurga lalu kemudian para dokter membawa kakinya yang sudah terpisah darinya dia berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengetahui bahwasanya kaki ini tidak pernah aku gunakan pergi ke tempat maksiat atau pergi melakukan suatu maksiat.

Dan setelah itu beliau pernah datang kepada khalifah Walid dan dipertmeukan dengan seorang yang sudah tua yang buta matanya dan tampak bekas luka di wajahnya.

Kemudian kholifah datang kepada urwah, “Wahai Urwah… tanyalah kepada orang tua tersebut apa yang etrjadi kepadanya sehingga dia mengalami hal itu.” Maka sayyidina Urwah berkata kepada orang tua tersebut,

“Bagaimanakah ceritamu wahai orang tua? Ceritakanlah ekpadaku!” “Wahai urwah… suatu malam aku berada di suatu lembah dan didalam lembah itu aku adalah yang paling kaya dan yang paling banyak harta dan paling banya keluarga.

Dan pada suatu malam datanglah air bah sehingga air bah tersebut mengambil seluruh keluargaku dan hartaku.

Dan semua yang ada padaku. Dan tidak terbit matahari kecuali aku tidak mempunyai keluarga kecuali hanya satu anak kecil da satu unta. Tiba-tiba satu untaku itupun lari dariku. Maka aku berusaha menyusul untuk mengambilnya. Dan tidak jauh dari tempat aku menyusul untaku tersebut tiba-tiba orang-ornag di belakangku berteriak, “Lihatlah anakmu!” ketika aku melihat anakku ternyata anakku yang masih kecil tersebut berada di dalam mulut serigala.

Sehingga kemudian aku pergi untuk menyusul singa tersebut guna menyelamatkan anakku, akan tetapi aku tidak berhasil menyelamatkannya dan di depan mataku aku melihat serigala itu mencabik-cabik daging daripada putraku dan membunuhnya. Maka kemudian aku kembali lagi menyusul untuk mendapatkan lagi untaku yang masih tersisa daripada hartaku satu-satunya. Ketika aku menyusulnya tiba-tiba dia mendorongku dan menyepakku dengan kakinya. Sehingga dengan sepakan kaki untaku itu mataku buta dan wajahku tercabik-cabik seperti yang engkau lihat sekarang ini.” Berkata Urwah, “Lalu apakah yang kamu katakan setelah terjadi kejadian ini wahai orang tua?” maka orang tua tersebut mengatakan, “Ya Allah… segala puji bagimu karena engkau masih memberikanku hati yang selalu ramai dengan berdzikir kepada Allah, bersyukur kepada Allah dan lidah yang selalu berdzikir kepada Allah .” Semoga Allah meridhoi mereka semuanya dan meridhoi kita.

7. Terdapat seorang ayah yang diuji dengan kematian anaknya. Setiap kali anaknya meninggal karena sakit dan kebetulan meninggal dipangkuannya sehingga menyebabkan kesusahan yang sangat pedih. Akan tetapi kekuatan imannya tidak mengarahkannya terkecuali untuk mengatakan:

“Bagi Allah apa yang diambilnya dan bagi Allah apa yang diberinya. Ya Allah… berikan aku pahala pada musibahku dan gantikan aku yang lebih baik darinya.” Sehingga tatkala anak ketiga akan meninggal dunia setelah 3 tahn kematian anak yang eprtama dan kedua dan telah sampai dalam keadaan sakaratul maut, di saat itulah sang ayah meneteskan air mata karena tidak tahan melihat anaknya tersebut. dan tiba-tiba karena kelelahan dia tertidur. Dan di saat tidurlah dan dia bermimpi seakan-akan kiamat telah terlaksana dan segala yang menakutkan pada hari kiamat dimulai sehingga dia melihat sirath terbentang di atas neraka jahannam. Dan setiap orang bersiap-siap untuk melewatinya, termasuk dia sudah berada di atas sirath tersebut. Akan tetapi dia takut untuk berjalan, takut oleng dan jatuh karenanya. Tiba-tiba datang anaknya yang pertama dalam keadaan berlari kemudian memegang tangan kananku seraya berkata, “Wahai ayahku… aku akan menggiringmu.” Maka kemudian dia berjalan tapi masih oleng.

Kemudian datanglah anak yang kedua kemudian menggandeng tangan kirinya sehingga dia merasakan tenang melewati sirath. Tapi di saat itulah dia merasakan kehausan yang sangat dan dia meminta kepada anaknya untuk mencarikan air untuknya. Maka berkata salah satu dari anak tersebut, “Wahai ayahku… kalau seumpama salah satu dari saudaraku yang ketiga ini bersama kami, maka pasti dia sudah memberikanmu minum sekarang ini. Maka dia bangun dari tidur dalam keadaan bersyukur kepada Allah karena dia masih berada di dunia dan belm datang hari kiamat. Dia menoleh kepada anaknya yang sekarat itu dan kemudian dia meninggal pada saat itu juga. Maka dia berkata, “Alhamdulillah.. engkau telah menyimpan untukku pahala dan yang akan menungguku kelak di hari kiamat dan akan menuntunku di atas sirath. Sehingga dia merasa senang gen=mbira dnegan kematian anak-anaknya tersebut dan menerima bahwasanya segala ketentuan Allah adalah yang terbaik baginya walaupun tidak tampak kebaikan itu di dunia, maka pasti tampak kebaikan itu di akhirat.”

8. Diriwayatkan bahwasanya ada seseorang yang menanam tanaman di ladangnya yang berasal dari Thaif dan tatkala sudah hampir panen tiba-tiba tanaman itu terkena hama dan terbakar karenanya. Maka banyak yang datang kepadanya dan memberikan kesabaran dan bertakziyah atas musibahnya dan dia dalam keadaaan menangis seraya berkata, “Demi Allah… aku dalam keadaan menangis bukan karena ladangku yang terbakar tersebut, akan tetapi aku menangis karena aku membaca firman Allah :

(Q.S. Ali Imron: 117)
Maka aku takut aku termasuk mereka yang disebutkan didalam ayat tersebut. Itulah yang membuatku menangis.”

9. Diriwayatkan bahwasanya disaat sahabat Sa’d bin Abi Waqqash datang ke Makkah dalam keadaan buta maka daanglah berduyun-duyun manusia untuk meminta do’a kepadanya karena memang beliau terkenal sebagai sahabat Nabi yang terkabul doanya berkat do’a Nabi . Maka berkata Abdullah bin Sa’ib, “Aku datang kepadanya dan pada waktu itu aku masih kecil. Lalu aku ajukan diriku kepadanya sehingga dia mengenalku. Dan aku berkata kepadanya, “Wahai paman… engkau selalu mendo’akan banyak orang dengan kesembuhan, maka sembuh penyakit mereka. Andaikata engkau meminta kepada Allah untuk mengembalikan pandangan matamu sehingga engkau bisa memandang.” Maka beliau tersenyum seraya berkata, “Wahai anakku… ketahuilah bahwasanya ketentuan Allah itu lebih aku senangid aripada kedua mataku ini.

 

Jangan Lupa Share klik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.